Bukan Konsumsi Seorang Gadis

20(Disclaimer: this post is written in Indonesian because my target audience is any Indonesian, especially Indonesian parents)

Apabila kita menilik sejarah, Indonesia sudah sejak lama menganut sistem patriarki, sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Laki-laki dinilai lebih kuat dan lebih tangguh daripada perempuan. Oleh karena itu, laki-laki berperan sebagai tulang punggung keluarga sementara perempuan lebih berperan sebagai penunjang kesuksesan laki-laki.

Sistem patriarki mungkin saja tumbuh di Indonesia berkat pengaruh berbagai pihak. Bisa saja sistem tersebut merupakan peninggalan budaya kerajaan-kerajaan masa lalu di Indonesia. Bisa juga sistem tersebut merupakan pengaruh agama tertentu yang memberikan pengajaran bahwa sejatinya mencari nafkah adalah tugas laki-laki sementara mengurus rumah tangga adalah tugas perempuan.

Budaya tetaplah budaya, suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Apabila sistem patriarki sejauh ini masih cocok dengan ideologi mayoritas masyarakat Indonesia, maka tak mengapalah sistem tersebut masih dilangsungkan. Apabila sekelompok masyarakat Indonesia masih sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja mereka meneruskan paham tersebut ke anak turun mereka. Apabila sekelompok masyarakat sudah tidak sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja pula mereka. Menurunkan suatu tradisi dari generasi ke generasi lain adalah kebebasan setiap individu, jadi tak perlulah ada perdebatan sengit di antara individu yang saling mencemooh ideologi masing-masing. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika hendak menurunkan suatu paham, termasuk paham patriarki, kepada generasi selanjutnya: kesiapan generasi tersebut.

Sebelum kita membahas mengapa kesiapan suatu generasi perlu diperhatikan sebelum dipaparkan terhadap suatu paham, terutama paham patriarki, mari kita mengingat kembali kisah RA Kartini, pahlawan nasional pejuang kesetaraan hak bagi perempuan. RA Kartini terlahir pada 21 April 1879 di keluarga priyayi (kaum bangsawan Jawa). Pada usia 12 tahun, RA Kartini dipingit, yakni dilarang ke luar rumah. Adat pingit membatasi RA Kartini (dan ribuan perempuan lainnya pada zaman itu) dari berbagai hal, seperti menuntut ilmu di bangku sekolah. RA Kartini dipingit sampai beliau menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang bahkan tidak beliau kenal sebelumnya.

Sistem patriarki zaman sekarang memang hadir dalam wujud yang berbeda apabila dibandingkan dengan sistem patriarki yang ada pada zaman RA Kartini. Pada zaman sekarang, adat pingit memang sudah hampir tidak ada. Akan tetapi inti dari pemikiran sistem patriarki masih ada: bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga dan perempuan berada di dapur saja.

Saya bukan seorang feminis pun seorang feminazi. Saya hanya merasa prihatin terhadap gadis-gadis Indonesia di luar sana yang masih menerima ungkapan “Kamu itu perempuan. Buat apa kamu berkarier? Perempuan berada di dapur saja.” Terlebih apalagi apabila gadis-gadis itu diperdengarkan dengan kalimat semacam “Buat apa kamu bersekolah tinggi apabila pada akhirnya kamu bertugas mengurus rumah tangga?”

Perlu orang-orang perhatikan bahwa seringan apapun perkataan yang terucap, apabila perkataan tersebut memiliki maksud untuk mempengaruhi seorang gadis untuk percaya bahwa takdirnya berada di dapur, gadis tersebut lama-kelamaan akan terpengaruhi. Lama-lama akan tertanam di benaknya bahwa apapun yang ia lakukan, ia akan menikah dan mengurusi keluarga. Karena gadis itu sudah terdoktrin, gadis tersebut tidak lagi akan serius dengan studinya. Ia tidak lagi memiliki cita-cita sebagai seorang individu. Cita-citanya beralih pada satu hal: membangun keluarga yang bahagia.

Membangun keluarga yang bahagia tentu adalah cita-cita yang mulia. Namun apabila hal itu merupakan satu-satunya cita-cita seorang gadis (yang tentunya belum menikah), yang benar saja?! Tidak ada yang bisa menjamin bahwa seorang gadis akan mendapatkan pasangan begitu ia lulus dari sekolah. Pun tidak ada yang bisa menjamin bahwa kebutuhan seorang gadis dapat dipenuhi oleh orang tuanya hingga gadis tersebut dipinang.

Seorang gadis harus memiliki ilmu yang tinggi. Ia harus dapat mandiri karena ketidakpastian itu selalu ada. Tidak ada yang menjamin bahwa pernikahan bisa memenuhi semua kebutuhan perempuan. Jika ternyata laki-laki tidak dapat memenuhi perempuan yang menjadi istrinya, perempuan tersebut bisa membantu sang laki-laki mencari nafkah. Pada dasarnya, menjadi seorang istri atau tidak, seorang perempuan harus berpendidikan tinggi. Toh generasi penerus bangsa pun memerlukan ibu yang cerdas sebagai ‘sekolah pertama’-nya apabila generasi penerus bangsa tersebut diharapkan membawa kebaikan.

Oleh karena itu, apabila seseorang hendak meneruskan paham patriarki dengan menasihati seorang perempuan mengenai prioritasnya (karier atau keluarga), lakukanlah kepada perempuan yang sudah siap, perempuan yang sekiranya sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Jangan katakan hal itu kepada seorang gadis yang masih belajar dan masih memperjuangkan cita-citanya. Jangan rusak cita-cita seorang gadis dengan visi yang belum pasti kapan akan terjadi.

2016: Lessons I’ve Learnt

The year 2017 is right in front of our eyes. Other people may be in their way arranging their best new year’s resolution, but I’ve stopped doing that since last year. It is not that I don’t believe that resolutions exists; I have come to an understanding which makes me realize that my resolutions are quite the same from one year to another. I realize that I don’t need new resolutions every year, because all I have to do is just to constantly aim new targets every once in a while. Therefore, instead of sharing my newest targets, I’d like to share things that I’ve learnt in this year.

1. NEVER, EVER, EVER, say “Yes” to something you’re not interested in.

I’ve gone through a not-so-delightful experience this year just because I say “Yes” to something I’m not interested in. You see, taking chances and risks are good ways to improve ourselves, to push ourselves beyond our limit. However, when you accept something just because you pity it (not 100% due to your fondness of the thing), you tend to lose focus and loyalty to that thing. After you start feeling bored of that thing, you’ll start feeling under pressure. You’ll feel like you’re forced to do those things. That kind of feeling will lead you to stress and even physical pain. And all of that is just because you don’t have the heart to say “No” at the first place. Trust me, it’s better to bear the guilt of rejecting someone or something than having to endure mental and physical pain over a period of time.

However..

2. ALWAYS say “Yes” to the things that give you more experience.

Giving a shot to something new and challenging will always lead us to a good thing. There are two possibilities of what that good thing will be: 1) a real beneficial good thing or 2) a bittersweet life lesson.

In 2016, I’ve said “yes” to two economics essay writing competition, a quite random high school quiz held by the government, a high school wall magazine competition, and an essay writing and debate competition about food technology. I may not rank the first on those competition, but from those competition I became to know my abilities. I became to know which topic I excel better than the others. The most important thing from all of that is that I became to know that anyone can be anything they want just by hard work and prayers.

3. Everyone has their own field.

Nobody is meant to be perfect. Nobody is sentenced to master all things. So, it’s okay if someone is better than you in something. What’s not okay is if you don’t try exploring your hobbies, talents, or interests.

4. It’s not about who is the sharpest; it is about who is the one with more effort.

A lazy genius will slowly having his or her mind blunt if he or she barely exercises. However, a diligent average person will start having keen mind if he or she constantly exercises to reach his or her goal.

Last but not least, here are two videos of Casey Neistat I really like for the wisdom in it. Casey Neistat is a New York-based filmmaker who has been vlogging for these past years. I started subscribing his channel this year and I have been inspired by his videos all these months. His way of life and his principles about success show me different perspectives in life. Watch these videos and I hope they do to you too. Arrivederci!

 

Kalau Hujan

19

kalau hujan tak lagi ragu-ragu
jatuh sajalah di jalan setapak itu
basahi bebatuan yang kering
timpa ia dengan nada berdenting

kalau hujan telah bijaksana
hampiri pohon yang berbunga
barangkali ia masih tersenyum
menunggu hujan yang membuatnya ranum

kalau hujan tak perlu lagi menanti
segeralah ia bertamu pada bumi
sampaikan rindu yang telah tersimpan lama
bagi bunga yang berbahagia karenanya

**
Yogyakarta, 21 September 2016
sebuah puisi balasan terhadap “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono

Arranging A Bouquet

Processed with VSCO with e5 preset

“What is love to you?”

I once asked that question to Aislinn out of the blue several weeks before I proposed her. Her sudden facial expression was priceless: amazed yet somehow confused. I didn’t blame her as my question was kinda cheesy that day.

Aislinn put her favorite ice cream sundae down next to her and she gazed at the horizon. The thick and humid November wind blew her hair towards the land as we were sitting facing the sea. She went silent for a while, probably arranging words inside her head. And I was there, enjoying my vanilla ice cream sundae.

Several spoons of ice cream later, Aislinn answered my question. “Instead of giving you a detailed and structured definition of what love means to me, I’ll tell you a story. Well, not really a story, but you’ll get the point!”

“Okay.”

“So, I got this story from my first visit to a flower shop in the suburbs. You must notice that I had never bought a flower before because I didn’t really get the point of buying one. I mean, buying flowers are a waste of money although I’d love to get one,” she said. “Well, however, that evening was different. I had to visit my grandma at the hospital and it was raining cats and dogs that time. My family had already reached the hospital and I’m the one who was still outside. They forgot to bring something for grandma, and so they told me to buy a flower on the way there.”

“I found a small tidy flower shop on my way to the hospital. The place was so nice. Its wooden walls were painted sky blue and it smelled so good. I entered that shop to find an old man sitting on a tall wooden chair with his back hunched. By the time I entered that shop, he was arranging a bouquet-which I thought was for a wedding as it was so gigantic. He was so focused that I was pretty sure he didn’t notice me coming.”

“I approached him and asked him whether he could help me or not. I told him that I knew nothing about flowers and I really need his help to arrange one for grandma. He was really nice and gallant. Within a minute, he picked some pink roses. He asked me whether I’m okay with his choice or not. After I told him I’m totally fine with his choice, he headed back to his work desk.”

I’m not really sure where her story was going, but okay, for her, I’d love to stay longer even if it just for listening her silliest dorkiest stories.

“Before I saw him arranging a bouquet, I always thought that arranging a bouquet was a piece of cake. I thought that everyone can do it. I mean, what’s hard about picking a flower and sticking it together with a ribbon?” she said rhetorically. I could see her eyes was full of excitement like what a professional storyteller has. “But then, the magic happened. I saw him gently cutting thorns from those pink roses. He cut those thorns with full concentration. When he was done, he arranged those roses and cut the stems to adjust the height. He made the stem on the center of the bouquet a little longer so it appeared a little higher. He made sure the leaves that were left on the stem were still fresh and perfectly arranged. After he was done with the roses, he took a strap of pink ribbon and tied the roses with it. He looked at it for a while before giving the bouquet to me. That stare he gave to the flower was like the stare of a mother to her newborn baby, you know, so full of love.”

Aislinn’s tone was telling me that her story was over, yet I hadn’t understand the moral value of the story. “And so?” I asked.

“So, I finally realize that to love is like being a florist. You arrange things so beautifully. You take care of it with your heart. You put all your effort on that beautiful thing to maintain it. However, you must be ready to let it go. You cannot hold it forever. At a particular time you never know when, you must let it go,” she said.

“Does that mean that you’ll let go everyone you love?”

She frowned at me. “Of course not. I’m a selfish florist, I’ll keep those bouquets I have arranged by heart. I’ll be ready to let my bouquets go only when they died or are better off without me,” she answered. “Don’t get me wrong, I really love keeping bouquets. However, if I’m bad for it, I’ll let it go so it has a better caregiver.”

The Break

1147

In every long-lasting relationships, there must be a break between the people in it. Long time lover sometimes needs time to figure things he or she can’t figure when his or her lover is around. Insecurity are being built by the distance between them. Trust to each other is being tested by vicious prejudices our own mind creates. The break is an unavoidable phase which every relation must go through just to face two choices in the end of the journey: stop or continue.

I and Aislinn had one, and it was because of me.

See, I’m not really good at maintaining a relationship with anyone because simply I’m an introvert who had little experiences in dating. I tend to keep things in mind rather to boast it around. I’m quite shy too. Even though I had known Aislinn for 9 months, sometimes I was still running out of words to say to her. Not only because she’s too breathtaking, but also because I was more likely to enjoy the moment without saying anything.

What I thought as my regular habit went like a boomerang to me one day.

In the midst of June 2007, Aislinn asked me to be her company when attending Tanya and Tyler’s wedding. Indeed, it was a magnificent wedding held on a rooftop in one of New York City’s skyscraper. The food was delicious, the decoration was elegant; it was quite perfect. I thought that day was perfect too because my appearance at Tanya and Tyler’s wedding was a sign that Aislinn trusted me and I was accepted in Aislinn’s inner circle. For a moment, I felt relieved.

However, that peaceful feeling in my heart didn’t last long. Well, as an optimistic perky girl, Aislinn was surely standing among the crowd behind Tanya when she threw her bouquet. Luckily for her, she got it. I could see from afar her lips turned into a bright smile. Her eyes were fulfilled with hopes a myth had given. She’s expecting a serious relationship; a marriage.

I, as someone who had just lost my job six months ago, wasn’t sure to continue what I and Aislinn had. I’m not ready to start a serious relationship. I barely can afford living for my self, how was I supposed to afford a living for another human being? I mean, love is not enough to start a serious relationship! I won’t be a hypocrite, although money is not everything, money is important to keep us (and a relationship) alive.

Since that day, I started avoiding Aislinn. I let her calls fell into my voicemail, I told her I was busy pursuing a decent living (which was true). I focus on my career and let my love life crumbled. Aislinn was asking tons of questions, of course. She texted, called, and mailed me; she even sent Tanya to my apartment to set things straight. However, I remained silent. I love her, but I didn’t want to spoil her. Plus, I didn’t know what to say.

On one fine day on September 2007, I walked home from my second workplace (yes, I had to have two small jobs to keep my self alive) through Central Park. I’m not sure why, well, maybe because of the universe or simply because of a nostalgic feeling that I suddenly felt, I went through the place where I first met Aislinn.

The sun was on the verge of setting, but I could still see things. My eyesight was still normal, but I couldn’t believe what I was seeing: Aislinn, sitting alone on a bench where an old couple sat when we met. She was leaning backwards while staring into the void.

I was still avoiding her, but I couldn’t help saying, “Aislinn?”

In a second, Aislinn turned her sight to me. I’m not sure how should I describe Aislinn that moment, but all I could get from her was a surprised look. “Wow, the universe is really on my side,” she said.

“I’m sorry, did I interrupted you?” I asked, hoping she would say yes so I could leave immediately and regret this decision my whole life. “If yes, I’ll go.”

I thought she would be angry at me for abandoning her for almost three months. Well, she deserved to slap me in the face and yelled at me; I even expected that (that’s why I hoped she say yes to my question). Surprisingly, Aislinn stood and hugged me. “Are you okay? I’m so worried.”

And I was standing there like a stupid pole being hugged my the world’s warmest hug giver. Her red hair below me smelled like honey and cinnamon; the scent that had been too familiar to me.

“Wait, why aren’t you mad at me?” I asked.

Aislinn released her hug and said, “What for?”

“For abandoning you! For not picking up your calls and replying your messages!”

She shrugged, “I’m pretty sure you know what you were doing.”

What?! I didn’t even know what I was doing!

“Well, yes, I’m quite mad at you for not letting me know what happened,” she said. “However, since the beginning, I know that there must be something in your mind that you didn’t want to share. I thought that I could help, but your rejection of me was clearly a sign that you didn’t trust me. So, I get it.”

“But, why don’t you slap me or yelled at me? I made you mad.” Honestly, I was so surprised by her reaction. She never failed to surprise me.

Aislinn shook her head, “Peter, we are adults. Real adults don’t do that.”

She left me speechless. Neither I nor her talked. All I can hear was just the wind of Central Park in September and my own heartbeat.

“So, I understand if you still need time to be alone. I’ll wait for you.” she finally said.

The next thing she said gave me two opposite things: chills and reassurance. The next thing she said made me feel like a dumb trash who had just realized that communication is the key to every relation. The next thing she said made me realize that her patience was what made her worth everything.

The next thing she said was “However, next time you do this to me, if there’s even a next time, at least tell me what you’re up to. I don’t need details, I just need to know what you are doing so I can step out of your way. I need a reason to hold on. Because, Peter, having something to hold on is always better than guessing what’s in other people’s mind.”

She gave me a firm squeeze on my arm and then left.

Pahlawan Tidak Perlu Diselamatkan

14

“Zal, kalau sedang sepi begini, biasanya para maling sapi berkeliaran. Sapi-sapi itu biasanya akan dibawa ke stasiun yang kosong itu lalu diselundupkan dengan kereta yang berangkat paling pagi,” ujar Pak Mamat yang sedari tadi diam.

 “Lho, bapak kok tahu?” tanya sahabatku, Karim, kebingungan. Ketika ia berbicara sambil mengunyah kacang rebus yang direbus Bu Mamat untuk giliran ronda malam ini, ludahnya beterbangan ke mana-mana. Karim memang tidak pernah berubah sejak aku pertama mengenalnya: jorok.

“Lha, bapak itu sudah meronda di  tempat ini sejak bapak SMA. Bapak pasti tahu, lah!” Pak Mamat menjawab Karim dengan suara yang cukup keras. Mungkin Pak Mamat merasa tersinggung atau Pak Mamat lupa kalau sekarang sudah malam.

“Pak, kalau begitu, warga sekitar sudah pernah ada yang menangkap malingnya belum?” tanyaku.

Pak Mamat mengusap-usap wajahnya lalu berkata, “Belum, Zal. Kata orang, malingnya bertubuh besar kayak kingkong, jadinya susah ditangkap.”

“Wah, bapak mengada-ada saja. Mana ada orang yang bertubuh besar seperti kingkong? Memangnya bapak pernah melihat kingkong?” seloroh Karim.

Pak Mamat tampak panas mendengar celotehan Karim. “Jadi anak kok kurang ajar, to, kamu, Rim?”

Kami yang sedang berjaga di pos ronda malam itu terkikik geli melihat ulah Pak Mamat yang mendadak menjadi seperti anak kecil ketika hendak melempar sandal ke arah Karim.

“Pak, sudahlah, abaikan saja Karim itu,” kata Pak Hanif. “Lebih baik kita mengkhawatirkan awan yang malam ini sepertinya begitu tebal.”

Tanpa perlu aba-aba, kami mendongak. Benar kata Pak Hanif. Langit tampak abu-abu pertanda awan menyelimuti langit.

“Wah, lumayan, lah, kalau hujan. Besok pagi aku nggak perlu menyirami tamannya Nona Alisia,” gumamku.

Mendengar aku menyebut nama Nona Alisia, semua menoleh ke arahku.

“Kabar Nona Alisia, gimana, Zal?” tanya Karim.

“Masih hidup,” kataku. Mendadak aku merasa salah telah membawa nama gadis kembang desa itu di obrolan ronda malam ini.

Mendengar jawabanku, Pak Tiur, duda dua anak sejak lima tahun lalu, memukul lenganku. “Heh, jawaban macam apa itu? Mau kau kubunuh di rawa-rawa?”

Karim lantas menimpali, “Wah, Pak, jangan bunuh Faizal di rawa-rawa, dong, Pak. Sekalian saja bakar dia dengan bensin.”

Pak Hanif menggeleng-gelengkan kepalanya, “Hus! Kalian ini, ya, kalau membicarakan gadis aja seperti nggak ada kenyangnya. Bicarakan dengan sopan, dong.”

Karim dan Pak Tiur terkekeh mendengarnya.

“Yah, kabar seperti apa yang kalian harapkan? Nona Alisia baik-baik saja, kok. Kemarin ia memintaku ke kota membelikannya buah lemon.”

“Wah, enak, ya, kamu, Zal, bisa bekerja untuk Nona Alisia,” ujar Karim.

Tiba-tiba, Pak Mamat unjuk bicara lagi setelah diam beberapa saat. “Eh? Nona Alisia meminta buah lemon?”

Aku mengangguk.

Pak Mamat yang tadinya tampak tidak tertarik dengan obrolan ini mendadak membenarkan posisi duduknya dan menghadap lingkaran kecil kami dengan serius. “Biasanya kalau ada perempuan ingin sesuatu yang asam, dia pasti hamil!”

“Sembarangan, ah, Pak Mamat,” selaku cepat-cepat. Aku tidak mau gadis yang secara tidak langsung menghidupiku terkena kabar miring gara-gara aku.

“Lho, kok kamu tidak terima, Zal? Kamu cemburu?” balas Pak Tiur.

“Bukan begitu, Pak.”

“Faizal… Faizal… mau sampai kapan kamu menunggu Nona Alisia? Sampai mati?” tanya Pak Mamat.

Mereka berempat sontak menertawaiku. Aku yakin pipiku memerah mendengarnya, tetapi tidak ada yang bisa kuperbuat di hadapan empat orang saksi hidupku sejak kecil.

“Kalau sudah cinta mati, lantas harus bagaimana, deh, Pak?” kataku memberanikan diri.

“Cinta itu jangan sampai mati, nanti kecewa seperti saya yang ditinggal istri sendiri,” kata Pak Tiur masih tertawa. Aku tahu tawanya itu mengandung kepahitan. Kepahitan memang perlu ditertawakan demi kebahagiaan hati sendiri.

Pak Hanif memegang pundakku, “Zal, kamu ingat, kan, kalau kamu memiliki tato di tubuhmu? Apa kamu lupa kalau kamu dulunya preman pasar? Menurutmu apakah orang sesuci Nona Alisia mau bersamamu?”

Telingaku sedikit panas mendengarnya. “Bukankah saya sudah berubah, Pak? Setiap orang suci pasti memiliki masa lalu dan setiap pendosa pasti memiliki masa depan! Toh saya juga tidak pernah lagi bertingkah yang aneh-aneh. Saya pun menuruti semua permintaan Nona Alisia sebaik mungkin.”

“Nak Faizal, menyirami mawar di taman Nona Alisia setiap hari bukan jaminan hatinya akan terbuka untukmu,” kata Pak Hanif. “Jangan terlalu berharap yang berlebih. Menjadi orang yang melayaninya sekaligus teman dekatnya saja kamu seharusnya sudah bersyukur.”

Karim menghela napas panjang mendengar pembicaraanku dan Pak Hanif. Karim tahu benar betapa aku menghormati Nona Alisia lebih dari sekadar hubungan majikan dan pembantu. Karim tahu benar bahwa aku sudah lelah dengan menjadi bujang di antara gadis-gadis gatal desa ini. Karim tahu benar bahwa aku menginginkan orang seperti Nona Alisia untuk menjadi pendamping hidupku.

“Pak, sudahlah, jangan buat Faizal ingin menaruh kepalanya di bawah guillotine,” ujar Karim.

“Apa itu guillotine?” tanya Pak Tiur.

Karim mendengus, “Alat untuk bunuh diri, Pak.”

Mendengar jawaban Karim, Pak Tiur meringis, “Wah, ya maaf, Rim, kalau untuk bunuh diri, sih, saya tahunya kalau tidak tali, ya, pistol.”

Dari kejauhan, aku merasa mataku menangkap suatu bayangan yang bergerak. “Pak, ada yang bergerak kemari!”

Mereka berempat mendadak siaga dan menatap was-was ke arah pandanganku. Kami meraih benda tajam yang berada di sekitar kami, siap-siap berlari kalau-kalau maling sapi yang tadi disebut-sebut Pak Mamat beraksi.

Ketika bayangan itu mendekat, mereka berempat tidak bisa apa-apa kecuali menghela napas lega. Aku, yang duduk di pojokan, masih tercekat.

Nona Alisia.

Apakah aku bermimpi? “Nona, apa yang sedang Nona lakukan di sini?” tanyaku.

Nona Alisia berdiri di pinggir pos ronda kami dengan sedikit mengigil. Ia hanya mengenakan jilbab merah yang disampirkan di pundaknya, kardigan hitam yang selalu dipakainya setiap kali aku melihatnya, dan rok hitam yang menutupi mata kakinya. Apakah ia tidak pernah berpikir bahwa berada di tempat terbuka seperti ini pada malam hari bisa membuatnya kedinginan? Ia, kan, gadis rumahan, mana tahan dengan dinginnya malam.

“Boleh saya duduk?” tanyanya.

“Eh, silahkan,” kata Karim.

Karim dan bapak-bapak yang lainnya membuka lingkaran kami dan mempersilahkan Alisia duduk di antara kami. Dari lima tempat yang bisa didudukinya, Nona Alisia memilih duduk di antara aku dan Pak Hanif.

“Nona, sedang apa Nona di sini?” tanyaku mengulang pertanyaan.

Nona Alisia menoleh ke arahku. Aku bisa melihat kantung mata menggantung di bawah matanya. “Sudahlah, Zal. Kali ini jangan panggil aku dengan embel-embel ‘nona’. Aku sebenarnya tidak suka julukan yang orangtuaku berikan padaku di depanmu.”

Eh?

“Mmm… baiklah, Alisia,” kataku sedikit ragu. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Aku tidak bisa tidur. Aku harus mempersiapkan untuk ujian semester akhirku besok. Kalau tuntas, aku bisa lanjut mengerjakan skripsi lalu lulus,” katanya.

“Lalu kenapa tidak mencoba tidur? Tidak lama lagi gelap akan hilang dan pagi akan datang. Sebelum ujian, kan, butuh tidur,” kata Karim.

Alisia mengernyit heran, “Mengapa kamu tidak bercermin?”

Karim tampak bingung, “Lho, apa yang salah?”

“Maksud Alisia, kenapa kamu nggak ngaca, Rim,” kataku.

Alisia mengangguk-angguk. Setelah mencerna perkataan Alisia selama sekian detik, Karim menepuk jidatnya. “Duh, kamu cantik, tapi konyol, ya.”

“Lho, kenapa?”

“Kan aku lagi ronda, gimana, sih?”

“Oh, iya,” Alisia pun tertawa menyadari kekonyolannya.

Setinggi apapun kasta keluarga Alisia di desa kami, Alisia tetaplah Alisia, gadis biasa yang usianya sepantaran dengan pemuda-pemuda desa. Akan tetapi, satu hal yang ia miliki, tetapi kami tidak: masa depan yang lebih baik. Tidak seperti kebanyakan gadis di desa kami, Alisia berkesempatan mempelajari teknik biomedis di suatu kampus ternama di pusat kabupaten.

Sebenarnya, aku bisa saja ikut bersekolah di kampus yang sama dengan Alisia, mempelajari teknik penerbangan, lalu memiliki masa depan yang lebih baik pula. Dengan masa depan yang lebih baik, aku bisa saja memiliki Alisia, teman sebelah rumah sejak SMA. Akan tetapi setiap kali kusinggung dunia perkuliahan, aku hanya mendapati marah kedua orang tuaku. “Buat apa kuliah kalau kuliah hanya menunda waktumu mendapatkan penghasilan sendiri?” begitu kata mereka. Jadilah aku bekerja serabutan, mengerjakan apapun yang bisa kukerjakan, termasuk menjadi tukang kebun keluarga Alisia. Aku mencoba menerimanya dengan ikhlas sekaligus mencari sisi positifnya: selain menabung masa depan, aku bisa membuka hati Alisia perlahan-lahan.

“Tadi ketika saya berjalan kemari, kabutnya tebal. Saya bahkan hampir menabrak pohon,” ujar Alisia. “Memangnya hal seperti itu sering terjadi di jam-jam ronda, ya?”

Pak Hanif yang sedari tadi rupanya was-was dengan cuaca langsung menyahut, “Enggak, kok, Non. Entah mengapa malam ini cuacanya agak aneh. Coba perhatikan, awannya tebal sekali, kan?”

Seperti kami beberapa menit yang lalu, Alisia mendongak lalu mengangguk, membenarkan perkataan Pak Hanif. “Kira-kira nanti bakal hujan, nggak, ya, Pak? Masalahnya saya nggak bawa payung ke sini,” tanyanya.

“Yah, nanti kan bisa saya anterin, Non, kalau hujan,” sahut Pak Tiur sambil terkekeh.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Alisia tertawa kecil. Tawanya yang renyah memang terdengar ramah, tetapi aku tahu jelas bahwa matanya menandakan ketidaksukaan terhadap Pak Tiur. “Dengan bapak atau tidak dengan bapak kan sama saja saya kehujanan,” jawabnya sopan.

“Ada tirai di pos ini, Non. Kan saya bisa payungi Non Alisia dengan tirai itu,” jawab Pak Tiur, kali ini lebih genit lagi.

“Hus, Pak! Ada penjaganya, nih, lho,” sahut Karim sambil menunjukku. Karim memang kampret, kalau begini kan Alisia bisa tahu kalau aku menyimpan rasa padanya! “Nanti bapak bisa dilaporin Faizal ke orang tua Nona Alisia terus dibakar hidup-hidup sampai jadi abu!”

Mendadak aku paham. Karim menjulukiku sebagai penjaga Alisia karena aku bekerja untuknya. Aku tak masalah dengan itu. Aku pun bersyukur karena setelah itu Pak Tiur tidak lagi bergenit-genit dengan Alisia.

“Mau kacang, Non?” Pak Mamat menyodorkan sekantung kacang rebus yang sedari tadi kami tekuni.

Belum Alisia sempat menjawab, langit bergemuruh. Dari kejauhan, terlihat petir menyambar. Televisi yang dari tadi menyala tanpa suara di pos ronda mulai mengabu kehilangan sinyal. Tak lama kemudian, gerimis pun turun.

“Wah, tidak usah, Pak, terima kasih,” jawabnya. “Sudah mau hujan, saya pulang saja. Lumayan sudah tidak begitu penat seperti tadi. Terima kasih, Pak.”

“Ya sudah, kalau begitu bawa saja kacang ini pulang. Ini bingkisan dari kami untuk yang sedang mau ujian. Siapa tahu bisa jadi teman belajar,” kata Pak Mamat. Kantung kacang rebus yang mahalezat itu diikat oleh Pak Mamat dan diserahkan ke Alisia.

“Eh, terima kasih, Pak. Maaf malah mengambil konsumsi di sini,” ujar Alisa sambil tersenyum. Cantik.

“Nggak apa-apa, Non. Buat Non Alisia apa sih yang enggak,” sahut Pak Tiur. Dari samping, Karim menyikut Pak Tiur. “Duh!”

Alisia lantas merapatkan kardigannya dan bersiap-siap pulang. Dari kejauhan, Karim berdeham pelan, tetapi cukup keras untuk mengusikku.

“Mmm… Al, mau kutemani pulang?” tanyaku memberanikan diri.

“Nah, itu, lebih baik pulang ditemani Faizal saja, deh, daripada ditemani Pak Tiur,” seloroh Pak Hanif. “Tapi kalian jangan aneh-aneh, lho!”

Karim terkikik sementara Pak Tiur mendengus.

“Ya sudah, temani aku, ya, Zal!” seru Alisia.

Maka nikmat Tuhan manakah yang kaudustakan, Faizal? Aku bergegas memakai sandalku dan merapikan sarung yang kusampirkan di bahu. Setelah berpamitan dengan Pak Mamat, Pak Hanif, dan Pak Tiur, Karim berbisik padaku, “Rebut hatinya! Jangan jadi pangeran katak melulu!” Mendengarnya mau tidak mau aku menjitak kepalanya. Bagaimana kalau Alisia dengar?

Alisia dan aku lantas berjalan berdampingan menyusuri jalan menurun menuju rumahnya. Pos ronda ini tepat di puncak bukit di desa kami dan rumah Alisia hanya beberapa puluh meter di bawahnya. Meskipun begitu, jalannya cukup sepi dan berkelok. Kami berjalan di bawah pepohonan yang ada dengan langkah cepat supaya terhindar dari gerimis.

“Nona, memangnya besok berencana membuat skripsi tentang apa, sih?” tanyaku mencoba memecah keheningan.

Alisia menatapku dan mendengus, “Sudah, jangan panggil aku dengan ‘nona’. Kan aku sudah bilang.”

Kalau begitu berarti dia serius dengan yang dikatakannya tadi. Kukira itu hanya supaya kami tidak terkesan seperti majikan dan pesuruh di depan tetangga yang lain. Ternyata dia memang bersungguh-sungguh.

“Oke,” kataku. “Skripsinya mau tetang apa?”

“Aku berniat menulis mengenai hal-hal yang sekiranya bisa meningkatkan efisiensi alat cuci darah,” jawabnya. “Kau tahu, kan, itu alat untuk membersihkan orang yang memiliki gagal ginjal.”

Aku manggut-manggut. “Mmm… kalau seseorang mengalami gagal ginjal, kenapa tidak dioperasi saja? Bukannya cuci darah itu mahal, ya, apabila dilakukan berkali-kali?”

Mendengar pertanyaanku, mata Alisia melebar. “Nah, itu dia yang kumaksud! Eh, maksudnya, mmm… kan ginjal pengganti itu juga tidak mudah didapat. Nah, cuci darah menjadi salah satu alternatif pengobatan gagal ginjal. Karena sampai kini cuci darah itu harus dilakukan berkali-kali, aku mencoba mencari cara supaya alat cuci darah itu menjadi lebih efisien. Apabila bisa lebih efisien, kan, siapa tahu bisa mengurangi intensitas seseorang cuci darah. Akibatnya, biaya yang seseorang keluarkan untuk cuci darah bisa lebih rendah!”

Akan seberapa cerdas anakku apabila Alisia menjadi ibunya?

“Eh!” Tiba-tiba Alisia memekik. Alisia limbung sesaat dan hampir terjatuh ke depan apabila aku tidak meraih tangan kirinya.

“Tersandung akar, Al?”

Alisia meringis. Wajahnya yang pucat tampak ceria di bawah sinar bulan. “Aku nggak apa-apa, kok. Makasih, Zal!”

Aku lantas melepaskan genggamanku. Tanganku sedikit bergetar, tetapi aku berusaha menutupinya. Ketika kulihat air menetes di wajah Alisia, aku menyadari kalau kami seharusnya bergegas dan bukannya berbincang di bawah sinar bulan seperti adegan-adegan di roman picisan.

“Ayo, nanti kehujanan!” seruku.

Aku mulai berlari kecil supaya cepat sampai di rumahnya. Di sampingku, Alisia berlari mengikuti. Tak lama kemudian, kami sampai di rumahnya.

Seperti yang semua orang akan mengira, rumah Alisia adalah rumah yang paling mewah di desa ini. Pagarnya berwarna abu-abu pastel dengan lampu jingga di ujung-ujungnya. Halaman depannya cukup luas untuk menampung koleksi tumbuhan ibu Alisia—yang kurawat. Teras rumahnya juga cukup besar dan berlantaikan marmer. Semua ini begitu indah sekaligus menyedihkan; ini mempertegas mengapa aku dan Alisia tidak bisa bersatu.

Aku buka gerbang rumah Alisia yang tertutup dan mempersilakannya masuk terlebih dahulu. Aku antarkan dia sampai ke teras rumahnya. Setelah sampai di bawah lampu yang cukup terang, kuamati Alisia. Syukurlah dia tidak begitu basah.

“Terima kasih, ya, Zal, sudah mau repot-repot mengantarku pulang,” katanya. “Apa setelah ini kamu kembali ke pos ronda?”

Aku menggeleng, “Tidak. Aku sudah lelah, aku mau pulang saja. Lagipula aku sudah sering ronda, biar sekali ini aku pulang lebih awal.”

Alisia manggut-manggut. Kemudian ada jeda yang cukup panjang di antara kami.

“Eh, sebenernya tadi aku ke pos ronda juga mau ketemu kamu,” katanya.

“Oh iya? Ada apa?” kuharap aku tidak tampak malu. Kuharap aku bertingkah normal.

Alisia menunduk sambil mengayun-ayunkan tubuhnya. “Tadinya kukira bakal cuma ada kamu atau kamu dan Karim, tetapi ternyata ada bapak-bapak yang lainnya. Jadinya aku tidak jadi cerita tadi,” ujarnya.

“Mau cerita tentang apa, sih, kok beraninya sama yang muda-muda saja?” tanyaku. Kurasakan jantungku berdebar lebih cepat. Semoga Alisia tidak mendengarnya di keheningan malam ini.

“Mau cerita tentang Bayu,” katanya. “Kamu tahu, kan, laki-laki yang akhir-akhir ini sering datang ke rumah?”

Oh, tentu aku tahu. Bayu, lelaki necis dari kota, tidak kalah cemerlangnya dengan Alisia. Masa depannya cerah. Setiap bertemu denganku, dia selalu berbincang denganku. Dia sangat ramah. Hanya dengan beberapa kali berbincang, aku bisa tahu kalau Bayu itu anak pertama dari tiga bersaudara, mahasiswa teknik elektro, sedang magang di perusahaan multinasional, dan—yang paling penting dan paling mengganggu—menyukai Alisia.

“Iya. Ada apa, nih?” tanyaku mencoba menyembunyikan kekesalan.

“Mmm… nggak apa-apa, kapan-kapan aja,” ujarnya sambil mengulum senyum. Senyumnya semanis dan secantik yang sebelum-sebelumnya, tetapi karena itu muncul karena Bayu, pesona senyum itu hilang di mataku. Senyum itu justru mengirisku perlahan-lahan. “Toh kamu juga sudah lelah, kan?”

Aku mengangguk. “Ya sudah, aku pulang dulu, ya. Kamu jangan belajar sampai terlalu malam, kita manusia, bukan burung hantu.”

“Oke, makasih sekali lagi, ya, Zal! Kamu memang teman yang paling baik,” serunya. “Oh, iya, kalau ketemu Pak Mamat, tolong bilangin makasih sekali lagi untuk kacang rebusnya.”

“Siap!”

Begitu Alisia masuk ke dalam rumah, aku bergegas keluar dari halamannya sebagai orang bodoh. Tentu saja ia akan berbicara mengenai Bayu; tidak mungkin ia mau berbicara mengenai aku! Aku mulai berpikir bahwa semua orang memang ada jodohnya: yang hebat dengan yang hebat, yang biasa dengan yang biasa.

Meski aku berusaha menjadi pahlawan di depan Alisia—melakukan apa saja yang baik di depannya—, aku hanyalah aku, tukang kebun dengan kecerdasan rata-rata dan masa depan yang biasa. Apabila Alisia kelak bersamaku, maka masa depannya mungkin hanya membantuku yang bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan. Akan tetapi, apabila ia tidak bersamaku, Alisia bisa merubah dunia dengan apa yang ia miliki dan kecerdasannya. Alisia tidak perlu berkutat denganku yang masih melulu memutar otak bagaimana caranya mengisi perut dan bukannya memperbaiki dunia.

Aku tak apa-apa, pahlawan tidak perlu diselamatkan. Alisia memang terlalu baik buatku.

Aku memang teman yang paling baik.

***

 Tantangan dari Winda Alviranisa, Almas Fauzia Wibawa, dan Annisa Rakhma Sari untuk membuat cerita menggunakan kata-kata sebagai berikut: sepi, sapi, kereta, bingung, terbang, kingkong, panas, awan, taman, hidup, rawa, bensin, kenyang, lemon, desa, mati, mati, tato, lupa, telinga, mawar, napas, guillotine, pistol, mata, mimpi, ujian, gelap, cermin, kampus, marah, kabut, pohon, tirai, abu, malam, bingkisan, katak, televisi, tutup, akar, pahlawan, lelah, burung hantu, dan operasi.