The Art I Master In One Year of College

The video above sums up the major lesson I learn from the first year of college life, albeit the excessive use of the f word is not a part of what I learn. To keep my posts suitable for all ages, from this point onward, I’ll replace the f word with fish.

Four years ago, back when I was in high school, I was taught to give a fish to almost every people and every events around me. Not without any purpose, those lovely seniors who taught me expected me to reduce my indifference. As a minimum requirement, I was expected to know the condition of my friends or colleagues. If it had been possible for me to help him/her, I would’ve felt obliged to do so. In one way or another, giving fish to something that is not my business at the first place is shaping me to be more social. It makes me easier to do unnecessary good deeds willingly. The impact of giving a fish to almost every single thing to my habit is not so surprising though as it is actually basic physics:

Newton’s First Law of Motion
An object at rest stays at rest and an object in motion stays in motion with the same speed and in the same direction unless acted upon by an unbalanced force.

I constantly give fish to people, thus it’s easier for me to give another fish to other people the next time.

However, one thing my seniors forget to teach us is that we actually need to consider who (or what) get more fishes than others. Some people or some things aren’t worth giving the fishes! Sure, it’s okay to give tiny weeny lacking omega-3 fishes to everyone or everything; it doesn’t cost that much. Giving tiny fishes for free is kinda good though if we consider it as an act of charity that might bring smiles on people’s faces. But although there are plenty of fishes in the sea, our access to the most nutritious fishes is limited. Our resource of good quality fishes is scarce; we must manage it well enough to keep it sustainable.

Entering college let me acknowledge diverse interesting things that can actually easily seduce me to give them fishes for free. But as a year went by, I get more assured that those appealing things aren’t worth my fishes. Sure, they might seem shining shimmering splendid (you peeps are an old school if you get this), but they don’t need my fishes. They’ll still be working fine without mine. Plus, many of things I met won’t give me anything back for a return (knowledge, tranquility, attention, etc), so why should I give mine?

Some may say that giving or not giving fishes based on the rule I set up for my self is too transaction-al. But, hey, guess what! Life itself is a transaction between us, human being, with The Creator. We obey The Creator’s rules to reach heaven as a return; why can’t we apply those rules on daily basis? All I say is that we really should start investing fishes on things that matters or to things that need it the most. That way, zero fish is wasted.

Ciao! lookingbackfromnow,didIaccidentallyenrolltocollegeoflife?

Advertisements

I Am Sarahza: A Proof That The Butterfly Effect Exists

50_no_mere_coincidence

(Disclaimer: this post is written in Indonesian because I Am Sarahza is also written in Indonesian)

Saya tidak akan me-review karya keenam Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra dari A sampai Z karena saya yakin banyak orang yang bisa melakukannya lebih bagus dari saya. Alih-alih, saya akan merefleksikan perjalanan perasaan saya beserta beberapa bulir hikmah yang saya garis bawahi ketika membaca I Am Sarahza, sebuah rekam jejak perjuangan Hanum dan Rangga menanti buah hati selama hampir 12 tahun.

I Am Sarahza merupakan ‘buku sejarah’ perjuangan Hanum dan Rangga menanti keturunan. Sebagaimana semestinya perjuangan, novel ini menceritakan perjuangan dalam rentang waktu yang panjang, yakni sekitar kurang lebih sebelas tahun. Cerita diawali dengan pertemuan Hanum dengan Rangga di parkiran FKG UGM dan diakhiri dengan kelahiran putri mereka, Sarahza Reashira, sebelas tahun kemudian. Di antaranya? Perjuangan hebat seorang perempuan untuk go straight outta hell alive: 5x inseminasi buatan, 20x terapi herbal, dan 6x bayi tabung (IVF).

Kenapa harus banget pakai diksi go straight outta hell ya karena perjuangan Hanum masyaallah banget. Gimana enggak? Kesuburan seorang perempuan itu—setuju nggak setuju, percaya nggak percaya—sebuah aset berharga, sebuah nilai plus bagi seorang perempuan. Dalam I Am Sarahza, Hanum menceritakan dengan gamblang sebelas tahun pernikahannya yang dihantui oleh pertanyaan “suburkah aku?”. Selama sebelas tahun, batinnya bergulat mempertanyakan nilai dirinya sendiri, nilai yang seharusnya bisa ia banggakan sebagai bagian utuh dari dirinya.

The Butterfly Effect

Perjuangan dan pergulatan batin sebelas tahun Hanum menurutnya berakar pada satu kejadian penting dalam hidupnya. Saat itu, pada perayaan ulang tahun ke-2 pernikahan mereka, Hanum berkata kepada Rangga:

“Buatku nggak punya anak juga nggak papa.”

Bum! Kalimat tujuh kata itu dengan mantap mengalir dari bibir Hanum. Diceritakan, pada saat mendengarnya, Rangga takut bahwa perkataan Hanum akan diamini malaikat yang mendengarkan.

Kalimat emosional itu merembet keluar karena Hanum pada saat itu tidak ingin menomorduakan kariernya sebagai presenter TV di bawah kepentingan keluarga, yakni mengusahakan keturunan sebelum keadaan semakin rumit. Sebenarnya, perasaan Hanum bisa dipahami. Pada saat itu, ia tengah menjalani kehidupan yang ia inginkan—berkecimpung di dunia media—setelah selama enam tahun berkutat pada dunia yang tidak ia nikmati—kedokteran gigi. Sebagai seseorang yang tengah mencicipi terpenuhinya kebutuhan akan self-actualization, jelas Hanum tidak akan semudah itu melepas sumber kebahagiaannya hanya demi menemani Rangga kuliah di Austria.

Akan tetapi, terlepas dari relativitas benar-salah terhadap persepsi masing-masing orang, tidak selalu apa yang bisa dipahami itu harus dibenarkan. Dampak dari perilaku Hanum muda yang dilandaskan pada emosi dan ego ternyata menggema melintasi ruang waktu hingga sebelas tahun kemudian dan juga seterusnya. The Butterfly Effect, suatu perubahan atau tindakan kecil di masa lalu dapat berdampak besar di masa depan. Sehingga, bisa kukatakan bahwa bulir hikmah utama dan terpenting dari cerita ini adalah selalu berhati-hati dalam setiap tindakan, seremeh apapun tindakan itu, seremeh berbicara.

The Playbook

Penantian Hanum dan Rangga yang diceritakan dalam novel ini mengingatkanku akan suatu kejadian lampau yang pernah kualami. Pada saat itu, aku tengah bersekolah di tingkat 2 suatu sekolah dasar yang luar biasa. Guru kami dan asistennya akan mengajari kami cara menyusun “jaring-jaring laba-laba” dari dua bilah kayu yang disilangkan dan gulungan benang warna-warni. Karena keterampilan itu perlu pengarahan dan pembiasaan sekitar sepuluh menit, murid-muridnya dipanggil secara bergantian. Mereka hanya memanggil dua murid setiap sepuluh menit. Sehingga, untuk mengisi waktu menunggu giliran, mereka menginstruksikan kami untuk bersantai di kelas. “Kalian terserah mau ngapain aja, yang penting bersantai,” begitu perintah guruku.

Begitulah kami selama beberapa jam kemudian. Ada temanku yang berbincang, ada temanku yang membaca buku. Pada saat itu, aku yang tidak sabar untuk segera menyusun “jaring-jaring laba-laba” tidak bisa benar-benar bersantai. Aku berusaha berbincang dengan temanku dan membaca, tetapi mataku kerap curi-curi pandang ke arah teman-temanku yang telah terlebih dahulu dipanggil untuk menyusun “jaring-jaring laba-laba”. Ketika teman-temanku menyebar ke segala penjuru ruang kelas untuk benar-benar bersantai, aku terdiam menunggu dengan duduk tenang dan rapi di karpet dekat guru dengan kedok pura-pura membaca. Rupanya gelagatku itu diketahui oleh guruku. Alhasil, aku harus menyaksikan semua temanku—kecuali satu orang yang kini aku lupa siapa—dipanggil dahulu sebelum aku. Ya, aku menjadi orang yang dipanggil kedua dari terakhir. Saat itu jujur rasanya sedih. Apa salahku? Bukankah aku jelas-jelas menunjukkan minat pada kegiatan menyusun “jaring-jaring laba-laba” itu? Kenapa justru teman-temanku yang senang bermain-main itu yang dipanggil terlebih dahulu?

Seolah melempar memori akan kejadian itu ke mukaku sekarang, I Am Sarahza mengingatkanku bahwa kesalahanku pada saat itu adalah satu: enggan mengikuti petunjuk. Boleh jadi aku yang paling berminat, tetapi karena aku tidak mengikuti the playbook—aturan mainnya—, maka aku masih kalah.

Pada kasus yang dialami Hanum dan Rangga, Hanum merasa bahwa ia melupakan playbook-nya, yakni kitab suci Alquran. Ia merasa bahwa selama ia menginginkan keturunan, ia tidak pernah benar-benar meresapi setiap prosesnya sesuai Alquran dan sunnah. Ia lupa bahwa ada peraturan main yang harus ditaati supaya Yang Maha Kuasa berkenan memberikan kuasa-Nya.

The Main Objective

Karena I Am Sarahza berotasi mengelilingi perjuangan Hanum mengusahakan keberadaan janin dalam rahimnya, novel ini juga berfokus pada tugas utama seorang perempuan. Pada awal novel, diceritakan bahwa Hanum adalah seorang mahasiswi koass kedokteran gigi yang merasa tidak bahagia dengan takdirnya menjadi dokter gigi. Hal ini karena ia ternyata memiliki minat yang lebih besar pada dunia media dan jurnalistik. Ketika pada akhirnya ia bisa menyelami dunia media dan jurnalistik, ia menjadi lebih memihak pada kariernya daripada keluarga kecilnya bersama Rangga. Bahasa kerennya, Hanum menjadi career-oriented.

Hal ini kemudian menimbulkan banyak rintangan bagi Hanum dan Rangga dalam memperoleh keturunan. Ketika akhirnya Hanum merasa berada di titik nadir hidupnya, Hanum mengevaluasi orientasi hidupnya dan melakukan pivot, perputaran sebesar 180 derajat. Ia kemudian menjadikan rida Allah SWT sebagai orientasinya. Padahal, dalam ajaran agama Islam, rida Allah SWT bagi perempuan yang sudah menikah adalah rida suami, bukan pada karier, ketenaran, dan segala hal duniawi lainnya. Hanum menjadi afterlife-oriented, berorientasi surga.

Kisah perubahan orientasi Hanum mengingatkanku akan game masa kecil yang suka kumainkan. Dalam beragam game tersebut, ada yang istilahnya main objective (tujuan utama) dan small errands (pekerjaan sampingan). Main objective jelas lebih susah untuk dilakukan karena ada banyak langkah rumit yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Sementara itu, small errands adalah pekerjaan ringan yang tidak memakan waktu dan pikiran, tetapi memberi reward yang lumayan. Terkadang mengerjakan banyak small errands bisa lebih menyenangkan daripada melanjutkan misi utama untuk menyelesaikan main objective. Akan tetapi, sebanyak apapun small errands yang kukerjakan, game tidak akan selesai.

Begitu pula dengan hidup. I Am Sarahza mengingatkanku kembali bahwa dalam hidup ini pasti ada hal-hal kecil menyenangkan yang bisa mengalihkan fokus kita dari mencapai tujuan utama. Sebut saja karier, kemewahan, dan kesenangan duniawi yang menggiurkan. Sementara itu, kita terkadang sering melupa bahwa ada main objective yang harus kita tuntaskan sebaik-baiknya. Apakah main objective kita sebagai manusia? Sekali lagi, jawaban dari pertanyaan ini relatif. Akan tetapi, aku cukup yakin bahwa banyak yang setuju bahwa salah satu tujuan kita di dunia ini adalah untuk menjadi orang yang pantas mendapat surga-Nya.


Ada banyak bulir hikmah lain yang bisa dipetik dari I Am Sarahza, tetapi setidaknya tiga di atas merupakan tiga bulir hikmah yang paling mengena bagiku. Ketika membaca novel ini, aku tidak menangis, sepertinya. Mata berkaca-kaca, iya, tetapi dengan sekali kejap air mata itu hilang seperti diserap lagi oleh kantung pembuatnya. Meskipun ada beberapa ulasan I Am Sarahza yang menyebutkan bahwa novel ini membuat mereka menangis meraung-raung ketika membacanya, aku tidak menangis. Entahlah.

Akan tetapi, I Am Sarahza berkali-kali membuatku harus berhenti membaca dan meresapi apa yang barusan dipindai oleh kedua bola mataku. Beberapa kali aku menjadi teringat akan kejadian masa lalu karena mendadak jawaban kejadian masa lalu itu kutemukan verifikasinya pada novel itu. Beberapa kali pula aku harus berhenti untuk beristigfar karena I Am Sarahza rupanya juga menjadi buku yang mencatat dosa-dosaku. Beberapa kali pula aku harus berhenti untuk menanamkan bulir hikmah yang kutemukan kuat-kuat dalam diriku supaya aku kelak tidak lupa.

I Am Sarahza merupakan buku mengenai perjuangan. Sungguh tidak berlebihan apabila aku mengatakan bahwa I Am Sarahza menjadi kado indah dari Hanum dan Rangga bagi pembaca. Kado yang dapat mencegah pembaca terperosok dalam lubang yang sama, kado yang dapat menjadi lengan bagi yang perlu dikuatkan. Sekalipun tidak ada satu pejuang pun yang langsung menang di medan perang sehingga kita perlu bantuan banyak tangan untuk berjuang. Jadi, selamat membaca dan merasakan sensasinya!

Sarahza

2017: A Year of Choices, Wrong Decisions, and Faith

1073

Hello, internet! Months have passed since the last time I post something on this dusty ‘lil blog and it is already December! They say December is “the most wonderful time of the year” and I agree on that since December means holiday. And holiday means free time to do things I really like, blogging for instance, yuhuu!

Just like every December these past few years (except for 2015’s December, I just realize that I forgot to summarize that year into a post), I’d like to summarize my experience this year along with all lessons I’ve learned. Quick story before I start: the movie “New Year’s Eve” inspired me to do this. Having a moment to reflect all deeds I’ve done in a year sounds like a good idea to me. Plus, I need something to do on new year’s eve since I can’t sleep thanks to the bangs (although this one and the last one on 2016 is not written on new year’s eve). So, straight to the points, here we go!

1. On attempting new things: consider the reason why you start thoroughly.

Last year I made a promise to my self to be more selective when it comes to saying “yes” and “no” to new opportunities. This year, I think I’m still unable to select what’s the best for me.

The year 2017 is the year I enter college, therefore the year 2017 is the year I discover lots of things. By “lots of things” I mean a lot. One of those things is these amazing people whose “personal brands” are outstanding and that make me feel smaller and smaller and even smaller.

In college, it is very easy to define people: John Doe the president of organization X, Richard Roe the entrepreneur, Jane Doe the researcher, etc. Those people have participated on international conferences, joined nationwide summit which made them have new acquaintances, attended talk shows as the key speaker, and so on. It seems like they have reach the front door of success at a very young age (oh please, none of them are above 25!). But above all, those outstanding people possess something not everyone have: the power to give good impact to wide range of people.

I want to be one of them. To be someone whose presence is not only as another plus one; to be someone whose presence can be a great impact to lots of people.

I realize that to find the definition of someone, to be well-known at a particular field, or just to be able to contribute to the society via a certain field, someone must be competent and professional. And to be those two, I also believe that experience is the best catalyst. Experience can be gained through formal studies, taking extra classes, being a part of a community filled with bunch of people with the same interest, being a committee of an event, and so on, depends on what field you want to master. That way, you’ll become an expert on your field and you will be like one of those outstanding people who can contribute a lot.

And that is where I went wrong.

Just because most of those people I met are committees of something or researchers of something doesn’t mean that I must go through the same path as they did. Everyone has their own field and every field have its own stage at the end of the path. I figured out lately that having “what field I want to master” or “what field is the most beneficial if I master it” in consideration is not enough. “Want” and “beneficial” are what make those not quite right. When you only have those two in considerations, when you finally meet an obstacle on your way, if your will is not strong enough, it will be easy for you to give up.

I figured out lately that “what field I’d love to master” is what should really be considered. When you’re in love with something, you will fight for it despite all the hardships that come to you. You’ll face obstacles with a light heart and you will still be happy. Forget about long-term benefits; your happiness must be prioritized because…

2. Happiness is what truly matters.

It doesn’t matter whether what you’re doing is beneficial for you or whether what you’re doing can fund seven generation of your descendants, if that makes you unhappy, ESCAPE THAT TOXIC JOB OR ACTIVITY IMMEDIATELY! What makes life precious is the small happiness you get on random occasions. When you’re older, the moments you’ll remember are the moments when you’re having a conversation with your best friends, not those moments when you’re studying all night without a break to get straight A’s! I’m not against studying, trust me, I support it fully. But, sometimes we just need a break. Life should be balanced, isn’t it?

1062

I need to keep this one in mind more. I often forget this one because I’m often too focused on my long-term goal, duh.

3. On befriending people: it is always about quality over quantity!

I’ve been on my most comfortable zone these past three years. The people who surround me are the best kind of people. They always bring the good side of me, and when I’m not, they’re still there to handle me. Long story short, they’re the best kind of friends I could’ve asked for.. we just clicked. Thank you!

Stepping into college means I must get out of my comfort zone. I don’t get to hang out with my old friends everyday though we still communicate regularly.

For exchange, I get to know new buddies from different parts of this country. They’re cool people with different backgrounds. They have interesting stories to tell and I respect them for how they struggle to enter college. But still.. it is not that easy to click with them.

In college, I also met various people whose personality make me shakes my head.

I met someone who take advantages from me. Don’t get me wrong, I like being beneficial to people. I love to take part in someone’s life as someone who helps them. But.. being that someone who is contacted only when being needed.. that’s not what I want. I’m here to also make friends, you know, not only to be someone’s helper.

I also personally met these bunch of people who talk politics and other sensitive topics to strangers. I don’t mind if those topics are being discussed just for the sake of knowledge, but these people, these bunch of people, even try to penetrate their ideologies to strangers. Yes, to strangers, duh! I don’t know about other people, but I think it’s inappropriate. Political views, religious views, and other similar things are private things and better be discussed in private too.

Bottom line, I now know that I really need to be selective when it comes to befriending people. There are lots of toxic people out there and I should do my best to not allow them spoil me in any kind of way. Befriending lots of people is good, but make sure to only have the best kind of people in your inner circle!

4. Stop thinking and just do your best to chase what you love!

This year’s greatest lesson is that I need to think less and care less (of what people think). This year’s greatest mistake is that I think too much ’till I forgot to listen to my heart. I think too much about possibilities and advantages ’till I forgot to consider my passion in my decisions. That made me really unhappy and that drove me a little mad for a moment.

This big mistake I made is not easy to fix; This is the kind of mistake I need to get along with. And I don’t really know how to face it; I have never made a mistake this big in my life.

But, to think… was it really a mistake? Or isn’t it just me who is still unable to see the good in His plans? Who knows, maybe it is the latter. I don’t know about you, but I believe that every thing that has happened, happens, or will happen in this universe is already planned by Him. And I also believe that He is The Best Planner of All.

1130

This brings us to the last (big, major, notable) lesson I learned this year:

5. Stop having what if-s, start having what’s next-s.

Having what if-s in life won’t help us anything, really. Having what if-s turns us into an ungrateful person. It will also make us hate ourselves more and that will be counterproductive. Mistakes are made in the past… so what? There’s nothing we can do regarding to the past.

All we can do is to plan something to mend our future, and that’s the only thing we need to do. It is easy to say and I know that it is so hard to execute, but I believe we can do this. We can go through this!

So, arrivederci people! From now on, let’s hustle!

The Question Only Time Can Answer

1173

What’s your plan for the next 20 years?

That is the question I must answer as a consequence of being a newly registered medical student (not really, never in a million years I’ll be entitled as a doctor). As someone who entered med school for the knowledge it provides and not for the curing license it gives, I have no plan at all. Therefore, this question haunts me day and night as the deadline of the task is not getting any longer.

Wherever and whenever I try to arrange the plans I’ll provide as an answer to that one particular question, I have flashbacks of a quite enlightening conversation I had with some friends. We  were sitting in my class on a one fine afternoon after school. Out of nowhere, someone asked me why I consider choosing health nutrition as the major I wanted to excel in although I had a greater passion in something else (communication). Long story short, I told them that I chose it because I believe it is the most logical thing to do; it is the all-in-one package of things I want to study.

In the university I enrolled in, the health nutrition major demands us to study diverse topics (which I’m interested in): communication, management, psychology, and philosophy. I’ve seen other majors’ curriculum and none of those are as diverse as health nutrition’s. Since I’m totally aware that college is expensive and it is more likely to be a chance of a lifetime, I try my best to pick the major that gives the greatest reliever for my thirst of knowledge.

At that time, I shared my worries to those who were there. I told them that I was in a dilemma: should I follow my heart (which will more likely lead me to the thing I’m really passionate about) or should I follow my brain (which decided to think logically)? At that time, my inner self rooted for my brain as it has more pros instead of cons. However, never had I before imagined my self being a nutritionist, telling people to live healthy while I myself prefer greasy lamb chop than carrots and broccoli.

Probably pitying me for drowning in my own worries, a free-spirited friend of mine spilled his opinions out, “You cannot decide who you want to be from what undergraduate major you choose. Undergraduate studies only carve the way you think. What you’ll be is decided once you study in postgraduate school.”

You see, he and I are nothing alike. All my life, I used to have a life-long plan. I had always known what school I want to study in, I had always discovered what I wanted to do in life. But him? He is some kind of a free-spirited artist. He never really thinks his life through, but somehow he managed to keep himself afloat in this deadly current named life. He enjoys his life to its fullest while I focus on the present deeds I must do in order to secure my upcoming happiness in the future. Although I understand his principles, I always find it hard to imagine my self having those as mine.

However, that time, I kinda trust his words. Maybe I found it true, or maybe I was too desperate looking for words that can soothe me. From that day on, I change my perspective. I won’t let my major steers my future; I’ll use my major as a vehicle to reach my future.

So, right now, by the time I write this, I don’t have any detailed plan or grand ambition when it comes to my life as a health nutrition stud (I haven’t even had a single class!). When it comes to my life as a health nutrition stud, I just want to start college, learn new things about a particular thing I’m interested into, and see whether it works for me or not. If it works, sure, I’ll try my best to excel in it. If it doesn’t, maybe I’ll try other things. As Rumi said:

Let yourself be silently drawn by the strange pull of what you really love.

However, I still have lots of ambitions outside my life as a health nutrition stud. Since I’m aware that I’m a little bit derailed, I’m not going to rush to make things happen. I’m not going to take it hard on my self, too. From now on, I’ll try figure out how my vehicle works out before using it on a journey in an alien terrain en route to my ambition. Yet, it is still possible that someday I’ll grow an ambition in the “health nutrition land”.. who knows?

This time, I’m a little bit relaxed because I used to be in some kind of competition (competing to get the best junior high and high school in town) and now I’m not. College doesn’t work that way. In college, I believe success is no longer defined as “accepted in the school of your dream” or “stand out among others”; to me, the definition of success has transformed into “live happily and be the kind person you want to be“.

Well, maybe this is just a rambling from someone who entered a major due to logical reasons instead of any magical callings from the inside, but I’ve witnessed lots of friends who half-heartedly choose to stay in a major he or she doesn’t like because of harsh reality and I hope this helps (although, praise the Lord, I don’t stand on their shoe, so maybe this is not too accurate)(plus, I consciously choose my major as the vehicle of my choice).

So, to answer that haunting question, can I say that I can’t? I have never been a 38-year-old woman and I don’t know what I’m going to do when I’m at that age. The age 38 is still 20 years away from me; for an 18-year-old girl, that age feels indistinct. And.. within those 20 years, anything can happen. Life requires people to open doors that lead to lots of opportunity; life is full of plot twists and surprises. Sometimes we can go straight to our destination, but sometimes we need to take a detour just for the sake of life lessons. That question can only be answered by time with the help of sudden inspiration.. and I cannot be forced to answer it right away. So, instead of planning it down to every details, why don’t we just focus on walking down the road?

oh how I want to write this on my paper

Bukan Konsumsi Seorang Gadis

20(Disclaimer: this post is written in Indonesian because my target audience is any Indonesian, especially Indonesian parents)

Apabila kita menilik sejarah, Indonesia sudah sejak lama menganut sistem patriarki, sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Laki-laki dinilai lebih kuat dan lebih tangguh daripada perempuan. Oleh karena itu, laki-laki berperan sebagai tulang punggung keluarga sementara perempuan lebih berperan sebagai penunjang kesuksesan laki-laki.

Sistem patriarki mungkin saja tumbuh di Indonesia berkat pengaruh berbagai pihak. Bisa saja sistem tersebut merupakan peninggalan budaya kerajaan-kerajaan masa lalu di Indonesia. Bisa juga sistem tersebut merupakan pengaruh agama tertentu yang memberikan pengajaran bahwa sejatinya mencari nafkah adalah tugas laki-laki sementara mengurus rumah tangga adalah tugas perempuan.

Budaya tetaplah budaya, suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Apabila sistem patriarki sejauh ini masih cocok dengan ideologi mayoritas masyarakat Indonesia, maka tak mengapalah sistem tersebut masih dilangsungkan. Apabila sekelompok masyarakat Indonesia masih sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja mereka meneruskan paham tersebut ke anak turun mereka. Apabila sekelompok masyarakat sudah tidak sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja pula mereka. Menurunkan suatu tradisi dari generasi ke generasi lain adalah kebebasan setiap individu, jadi tak perlulah ada perdebatan sengit di antara individu yang saling mencemooh ideologi masing-masing. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika hendak menurunkan suatu paham, termasuk paham patriarki, kepada generasi selanjutnya: kesiapan generasi tersebut.

Sebelum kita membahas mengapa kesiapan suatu generasi perlu diperhatikan sebelum dipaparkan terhadap suatu paham, terutama paham patriarki, mari kita mengingat kembali kisah RA Kartini, pahlawan nasional pejuang kesetaraan hak bagi perempuan. RA Kartini terlahir pada 21 April 1879 di keluarga priyayi (kaum bangsawan Jawa). Pada usia 12 tahun, RA Kartini dipingit, yakni dilarang ke luar rumah. Adat pingit membatasi RA Kartini (dan ribuan perempuan lainnya pada zaman itu) dari berbagai hal, seperti menuntut ilmu di bangku sekolah. RA Kartini dipingit sampai beliau menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang bahkan tidak beliau kenal sebelumnya.

Sistem patriarki zaman sekarang memang hadir dalam wujud yang berbeda apabila dibandingkan dengan sistem patriarki yang ada pada zaman RA Kartini. Pada zaman sekarang, adat pingit memang sudah hampir tidak ada. Akan tetapi inti dari pemikiran sistem patriarki masih ada: bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga dan perempuan berada di dapur saja.

Saya bukan seorang feminis pun seorang feminazi. Saya hanya merasa prihatin terhadap gadis-gadis Indonesia di luar sana yang masih menerima ungkapan “Kamu itu perempuan. Buat apa kamu berkarier? Perempuan berada di dapur saja.” Terlebih apalagi apabila gadis-gadis itu diperdengarkan dengan kalimat semacam “Buat apa kamu bersekolah tinggi apabila pada akhirnya kamu bertugas mengurus rumah tangga?”

Perlu orang-orang perhatikan bahwa seringan apapun perkataan yang terucap, apabila perkataan tersebut memiliki maksud untuk mempengaruhi seorang gadis untuk percaya bahwa takdirnya berada di dapur, gadis tersebut lama-kelamaan akan terpengaruhi. Lama-lama akan tertanam di benaknya bahwa apapun yang ia lakukan, ia akan menikah dan mengurusi keluarga. Karena gadis itu sudah terdoktrin, gadis tersebut tidak lagi akan serius dengan studinya. Ia tidak lagi memiliki cita-cita sebagai seorang individu. Cita-citanya beralih pada satu hal: membangun keluarga yang bahagia.

Membangun keluarga yang bahagia tentu adalah cita-cita yang mulia. Namun apabila hal itu merupakan satu-satunya cita-cita seorang gadis (yang tentunya belum menikah), yang benar saja?! Tidak ada yang bisa menjamin bahwa seorang gadis akan mendapatkan pasangan begitu ia lulus dari sekolah. Pun tidak ada yang bisa menjamin bahwa kebutuhan seorang gadis dapat dipenuhi oleh orang tuanya hingga gadis tersebut dipinang.

Seorang gadis harus memiliki ilmu yang tinggi. Ia harus dapat mandiri karena ketidakpastian itu selalu ada. Tidak ada yang menjamin bahwa pernikahan bisa memenuhi semua kebutuhan perempuan. Jika ternyata laki-laki tidak dapat memenuhi perempuan yang menjadi istrinya, perempuan tersebut bisa membantu sang laki-laki mencari nafkah. Pada dasarnya, menjadi seorang istri atau tidak, seorang perempuan harus berpendidikan tinggi. Toh generasi penerus bangsa pun memerlukan ibu yang cerdas sebagai ‘sekolah pertama’-nya apabila generasi penerus bangsa tersebut diharapkan membawa kebaikan.

Oleh karena itu, apabila seseorang hendak meneruskan paham patriarki dengan menasihati seorang perempuan mengenai prioritasnya (karier atau keluarga), lakukanlah kepada perempuan yang sudah siap, perempuan yang sekiranya sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Jangan katakan hal itu kepada seorang gadis yang masih belajar dan masih memperjuangkan cita-citanya. Jangan rusak cita-cita seorang gadis dengan visi yang belum pasti kapan akan terjadi.

2016: Lessons I’ve Learnt

The year 2017 is right in front of our eyes. Other people may be in their way arranging their best new year’s resolution, but I’ve stopped doing that since last year. It is not that I don’t believe that resolutions exists; I have come to an understanding which makes me realize that my resolutions are quite the same from one year to another. I realize that I don’t need new resolutions every year, because all I have to do is just to constantly aim new targets every once in a while. Therefore, instead of sharing my newest targets, I’d like to share things that I’ve learnt in this year.

1. NEVER, EVER, EVER, say “Yes” to something you’re not interested in.

I’ve gone through a not-so-delightful experience this year just because I say “Yes” to something I’m not interested in. You see, taking chances and risks are good ways to improve ourselves, to push ourselves beyond our limit. However, when you accept something just because you pity it (not 100% due to your fondness of the thing), you tend to lose focus and loyalty to that thing. After you start feeling bored of that thing, you’ll start feeling under pressure. You’ll feel like you’re forced to do those things. That kind of feeling will lead you to stress and even physical pain. And all of that is just because you don’t have the heart to say “No” at the first place. Trust me, it’s better to bear the guilt of rejecting someone or something than having to endure mental and physical pain over a period of time.

However..

2. ALWAYS say “Yes” to the things that give you more experience.

Giving a shot to something new and challenging will always lead us to a good thing. There are two possibilities of what that good thing will be: 1) a real beneficial good thing or 2) a bittersweet life lesson.

In 2016, I’ve said “yes” to two economics essay writing competition, a quite random high school quiz held by the government, a high school wall magazine competition, and an essay writing and debate competition about food technology. I may not rank the first on those competition, but from those competition I became to know my abilities. I became to know which topic I excel better than the others. The most important thing from all of that is that I became to know that anyone can be anything they want just by hard work and prayers.

3. Everyone has their own field.

Nobody is meant to be perfect. Nobody is sentenced to master all things. So, it’s okay if someone is better than you in something. What’s not okay is if you don’t try exploring your hobbies, talents, or interests.

4. It’s not about who is the sharpest; it is about who is the one with more effort.

A lazy genius will slowly having his or her mind blunt if he or she barely exercises. However, a diligent average person will start having keen mind if he or she constantly exercises to reach his or her goal.

Last but not least, here are two videos of Casey Neistat I really like for the wisdom in it. Casey Neistat is a New York-based filmmaker who has been vlogging for these past years. I started subscribing his channel this year and I have been inspired by his videos all these months. His way of life and his principles about success show me different perspectives in life. Watch these videos and I hope they do to you too. Arrivederci!

 

Resensi Buku – Malam-Malam Terang

Tasniem, siswi kelas 9 SMP Negeri 5 Yogyakarta, merasa seakan dunianya hancur ketika mengetahui nilai ujian nasionalnya. Pasalnya, nilai ujian nasionalnya tidak mencukupi syarat minimal SMA idamannya, SMA Negeri 3 Yogyakarta. Siswi yang kerap sekali menduduki peringkat atas merasa terpuruk, merasa malu tidak mampu mendapatkan yang terbaik sesuai usahanya. Ia merasa bahwa kehidupan tidak adil ketika masa depannya hanya bergantung pada angka desimal yang ia usahakan selama ujian nasional berlangsung.

Setelah berhari-hari mengurung diri di kamar, Tasniem mencoba mengobati kegalauan hatinya. Ia pergi mengunjungi neneknya di Solo. Dalam perjalanannya, ada satu kata yang sering Tasniem temui: Singapura! Pada awalnya, Tasniem merasa tidak yakin terhadap seluruh pertanda itu, hingga perkataan neneknya membuatnya tersadar bahwa Singapura adalah pemberhentian selanjutnya.

Berbekal kemampuan bahasa Inggris yang apa adanya dan semangat untuk ‘mengambil apa yang seharusnya miliknya’, Tasniem lantas bertolah menuju Singapura untuk menuntut ilmu. Ia bersekolah di GC (Global College), sekolah internasional dengan siswa dari seluruh penjuru dunia. Di sana, Tasniem berteman dengan ketiga roommates-nya: Angelina dari Indonesia, Cecilia dari Cina, dan Aarin dari India.

Kehidupan di GC tidaklah mudah. Tasniem merindukan keluarganya, kehidupannya di Indonesia. Tasniem yang perlu mengejar ketertinggalannya dalam berbahasa Inggris juga merasa terpukul ketika mendapat nilai yang jelek di pelajaran komputer. Tasniem ingin berhenti berusaha dan kembali ke pangkuan kedua orangtuanya di Indonesia.

Suatu malam, ayah Tasniem yang saat itu sangat sibuk menjadi pegawai tinggi negara menelpon Tasniem-suatu kejadian yang bisa dibilang langka. Mendengar lantunan ayat Al-Quran dan beberapa pepatah bijak ayahnya malam itu membuat rindu Tasniem terhadap rumah terbayarkan dan semangat Tasniem kembali berkobar.

Di tanah rantau, Tasniem berusaha mendapat pengalaman sebanyak mungkin. Semua kejadian yang menimpanya sebisa mungkin ia cari sisi positifinya. Ia jalani kehidupannya dengan doa dan usaha supaya suatu saat nanti ia dapat membuat kedua orangtuanya bangga.

Sepintas, kurasa “Every cloud has a silver lining adalah kalimat yang tepat untuk seluruh kejadian dalam novel karya Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi ini. Pada kali pertama aku membaca sinopsis novel ini, aku langsung tahu bahwa novel ini begitu cocok untuk membangkitkan semangat para pemimpi yang telah dijauhkan dari mimpinya.

Ketika aku membuka novel ini untuk yang pertamakalinya, aku merasakan aura yang familier. Novel ini berlatar di tempat-tempat yang terasa tidak asing bagiku berkat penggambaran-penggambarannya yang begitu ‘nyata’. Novel ini terasa begitu ‘dekat’ berkat pilot chapter-nya yang menggambarkan kejadian yang sering terjadi di sekitar pelajar: NEM yang terlalu rendah untuk masuk ke SMA idaman. Plot awalnya memang merupakan suatu kejadian yang biasa, tetapi every student can relate to that point of story.

Setelah membalik beberapa puluh halaman, aku berasa membaca kembali novel-novel favoritku: trilogi Negeri 5 Menara dan tetralogi Laskar Pelangi. Ya, menurutku, novel ini memiliki semangat yang sama dengan trilogi Negeri 5 Menara dan tetralogi Laskar Pelangi. Persamaannya adalah karakter Tasniem yang sebelas-duabelas dengan karakter Alif dan Ikal yang pantang menyerah. Novel ini seakan terletak di antara trilogi dan tetralogi besar itu; tidak sereligius Negeri 5 Menara (religius karena berlatar di pondok pesantren) dan tidak seutopis Laskar Pelangi (utopis karena menurutku semua tokoh mendapat akhir yang bahagia). Malam-Malam Terang berada di titik kesetimbangan.

Menurutku, Malam-Malam Terang adalah ‘camilan’ baru bagi para pecinta novel-novel petualangan penuh inspirasi. Aku suka cara Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi membuat usaha tokoh Tasniem untuk berprestasi tampak menonjol pada cerita itu. Cara belajar Tasniem yang jitu digambarkan dengan detail, mengakibatkan cerita itu terkesan seperti tips dan trik bagi para pelajar. Bagian cerita yang menggambarkan Tasniem ketika berdoa dan bermunajat kepada Tuhan membuatku sebagai pembaca tersadar bahwa setiap usaha itu perlu disertai dengan doa. Selain itu, aku suka cara Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi menggambarkan Tasniem yang selalu berpikiran positif. Pikiran positif Tasniem terletak dimana-mana dan tidak menggurui; pikiran positif Tasniem bisa ‘mendoktrin’ pembaca dengan mudah (tentunya dalam hal-hal yang baik).

Meskipun begitu, menurutku ada beberapa hal yang membuatku berpikir “Sedikit lagi dan novel ini akan menjadi petualangan yang sangat tak terlupakan.”

Pertama, kurangnya dialog pada beberapa bagian membuat urutan-urutan kejadian dalam cerita ini kurang dapat tervisualisasi dengan jelas. Meskipun latar ceritanya digambarkan dengan penggambaran yang begitu ‘nyata’, kurangnya dialog dalam cerita membuat beberapa bagian di cerita ini kurang nge-feel.

Kedua, masih ada beberapa salah ketik yang kurasa cukup mengganggu kenyamanan pembaca. Beberapa kata yang seharusnya ditulis dengan huruf kapital justru ditulis dengan huruf kecil. Sangat disayangkan!

Terakhir, aku masih merasa digantungkan ketika membaca bab terakhir dalam buku itu. Aku merasa bingung; sebenarnya apa, sih, inti dari novel tersebut? Apakah inti dari novel tersebut adalah perjuangan Tasniem melupakan sakit hatinya karena tidak diterima di SMA idamannya? Apakah inti dari novel tersebut adalah pengalaman Tasniem ketika bersekolah di SMA dan hendak kuliah? Apakah inti dari novel tersebut adalah upaya Tasniem untuk mendapat beasiswa kuliah di Jepang? Atau apakah inti dari novel tersebut adalah kisah Tasniem untuk pada akhirnya bersama dengan Edo?

Menurutku, novel ini berisikan kepingan-kepingan kisah Tasniem yang antarkepingannya tidak begitu berhubungan. Seperti misal, pada bab awal hingga beberapa bab sebelum bab terakhir, novel ini memang terfokus pada cerita Tasniem bersekolah di GC. Namun, beberapa bab terakhirnya membahas mengenai kegiatan Tasniem di Indonesia ketika mencari beasiswa ke Jepang. Kemudian, dua bab terakhirnya membahas mengenai Tasniem yang akan ‘ditunggu’ oleh Edo dan mengenai Tasniem yang sudah sampai di Bandara Fukuoka, Jepang. Aku merasa novelnya menjadi sedikit antiklimaks karena kurasa klimaks dari cerita tersebut adalah ketika Tasniem diwisuda (adegan itu benar-benar membuatku merinding!), bukan ketika Tasniem memperoleh beasiswa ke Jepang (bersekolah di Jepang tidak menjadi fokus cerita ini dari awal). Alangkah lebih nge-feel apabila novel itu hanya sampai pada adegan Tasniem diwisuda dan adegan-adegan selanjutnya dilanjutkan di novel selanjutnya (aku benar-benar berharap ada sekuelnya yang menceritakan petualangan Tasniem di Jepang hingga pulang dan ‘bersatu’ dengan Edo, hehe).

Akan tetapi, secara keseluruhan, menurutku novel ini merupakan novel a must-read! Ada banyak sekali adegan yang ‘mencerahkan’ dan adegan-adegan yang menyentuh hati. Aku tak sabar untuk membaca sekuelnya (kalau memang ada)!

Tambahan, berikut ini beberapa kutipan yang aku suka dari novel ini, hehe:

“Memenangkan proses itu sendiri lebih dahsyat daripada memenangkan skor pertandingan.”

“Kesepian adalah kutukan bagi seorang petualang.”

“Carilah suami yang pandai membaca Al-Quran. Kalau dia pandai membaca ayat-ayat Tuhan, membacamu sebagai istri adalah perkara yang mudah.”

Judul: Malam-Malam Terang
Penulis: Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi - Malam-Malam Terang