Teladan-ku Sayang, Teladan-ku Malang: Sebuah “Frequently Asked Questions”

DSCN5881

Dalam satu  minggu ini, aku bertemu dengan banyak teman baru berkat ospek kampus. Seperti pada umumnya, kami berkenalan. Pertanyaan perkenalan yang dilontarkan cukup pasaran: namamu siapa, prodimu apa, asalmu dari mana, dan SMA-mu dulu di mana. Pertanyaan terakhir selalu kujawab dengan penuh syukur: “SMA (Negeri) 1 ‘Teladan’ Yogyakarta”.

Teman-temanku yang berasal dari luar kota biasanya cuma membalasnya dengan “Ooo” yang singkat, padat, dan jelas. Informasi yang kamu berikan cukup, Alima, kini aku sudah tahu. Terima kasih. Kurang lebih begitu maknanya. Akan tetapi, mayoritas teman-temanku yang berasal dari Yogyakarta membalasnya dengan “Ooooooooh pantesan”, dilantunkan dengan nada yang menyiratkan sudah kutebak!

Reaksi mereka memantik suatu rasa ingin tahu dalam diriku: menurut mereka, anak Teladan itu kayak apa, sih? Mereka nggak bisa menjawab ketika aku bertanya, “Apa yang membuat kalian berpikir kalau aku anak Teladan?”, tetapi mereka bisa dengan lugas menjawab ketika aku meminta pendapat mereka, “Lha, memang menurutmu Teladan itu seperti apa?”

Jawaban mereka cukup beragam, tetapi memiliki benang merah yang relatif sama. Sehingga, pada postingan ini, aku akan merangkum jawaban mereka serta mengklarifikasinya. Demi kamu, Teladan-ku sayang, Teladan-ku malang.

“Kalau aku sih milih di SMA lain daripada di Teladan. Teladan isinya banyak Muslim-nya, kan? Aku nggak mau terkucilkan di sana.”

Klarifikasi pertama: Teladan bukan sekolah Islami; Teladan adalah sekolah agamis.

Teladan tidak memaksa siapapun dalam beragama. Teladan hanya mengarahkan.
Pada hari-hari tertentu, ada kegiatan keagamaan di pagi hari. Yang Muslim mengaji di kelas, yang beragama lain beribadah di ruang agama masing-masing.

Tenang aja, semua agama dihormati dengan setara, kok, di sini! Teman-temanku yang beragama Kristen dan Katolik sering mengadakan retreat di Kaliurang dan mengadakan doa bersama di ruang multimedia. Mereka juga punya ruang agama yang teramat sangat layak (re: sekarang malah ada AC-nya).

Memang, jumlah siswa yang beragama Islam lebih banyak dibandingkan dengan jumlah siswa yang beragama Kristen, Katolik, maupun Hindu. Akan tetapi, itu hal yang wajar, kan, ketika kamu bersekolah di sekolah yang terletak di Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam? Jadi, bottom line, semua agama terfasilitasi kebutuhannya.

“Teladan itu isinya orang-orang yang ekstrem dalam beragama, ya? Isinya anak-anak yang Islam-nya radikal, kan?”

Kalau boleh jujur, aku pengen ketawa kalau dengar ini. Ketawanya ketawa geli sekaligus sedih. Ya Allah, sekolah dengan lingkungan (terbaik, menurutku) kayak kamu kok bisa dituduh kayak gini, sih?

Pertanyaan itu biasanya berasal dari beberapa fakta:
1. Anak Teladan kalau pakai kerudung biasanya lebar-lebar.
2. Anak Teladan biasanya celananya cingkrang (dipakai di atas tumit).

Klarifikasi kedua: Nggak semuanya seperti itu; itu bukan kewajiban; itu hanya kepercayaan masing-masing pribadi.

Kenapa kerudung siswi Muslim di Teladan lebih lebar dari teman-teman SMA lain?
Peraturan MPK Teladan mengimbau kami untuk memakai kerudung hingga ujungnya menyentuh sabuk, tetapi tidak sampai menutupi seluruh lengan (biar masih kelihatan kalau pakai seragam). Selebihnya, kalau ada yang lebih panjang dari batas sabuk, itu sejatinya murni keinginan dan kepercayaan tiap siswi. Barangkali mereka memercayai dan mengamalkan QS. Al-Ahzab: 59 (lengkapnya bisa dipelajari di sini).

Kenapa beberapa siswa Muslim di Teladan memakai celana cingkrang?
Mereka nggak lagi kebanjiran, kok. Tidak ada alasan lain selain mereka memercayai dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW (lengkapnya bisa dipelajari di sini).

Ada pula rumor tidak sedap terkait Teladan yang kerap beredar:
1. Anak Teladan diajarin bikin bom.
2. Tangga di Teladan dipisah bagi yang putra dan yang putri.

Klarifikasi ketiga: anak Teladan nggak ada yang bisa buat bom.

Terus terang, kimia adalah mata pelajaran yang paling tidak diminati di sini dibandingkan dengan fisika dan biologi. Jadi, gimana kami mau buat bom kalo kami aja masih bingung membedakan alkana, alkena, alkuna?

Klarifikasi keempat: cuma ada dua tangga yang dispesifikkan peruntukannya.

Tangga apa itu? Dua tangga menuju lantai 2.
Teladan punya delapan tangga: dua di gedung induk, dua di lobi baru, dua di dekat perpus, satu Tangga Hijau Al-Uswah, dan satu di Aussie. Yang dipisah yang mana? Tangga Hijau Al-Uswah (menuju lantai 2) diperuntukkan bagi perempuan karena dia mengarah langsung ke pintu masuk Masjid Al-Uswah area perempuan dan tempat wudhu perempuan. Sementara itu, di dekatnya juga ada tangga yang diperuntukkan bagi yang laki-laki untuk naik ke lantai 2. Ya kali yang laki-laki mau lewat tangga yang mengarah ke area masjid untuk perempuan?

Terus, kenapa kalau ada acara apa gitu di Teladan kadang tangganya dipisah? Kayak waktu TUC gitu? Ini adalah cara Teladan menghormati perempuan dan laki-laki yang ada. Ketika massa yang menapaki lorong Teladan begitu banyak, Teladan mengantisipasi terjadinya dempet-dempetan dan tabrakan yang tidak diinginkan.

“Aku takut masuk Teladan. Lha isinya anak-anak yang kutu buku semua, e. Aku nggak kuat belajar terus.”

Percayalah, anak-anak Teladan malah cenderung lebih sibuk berkegiatan daripada belajar. Kegiatan eksternal kami memang tidak banyak dan tidak begitu terlihat apabila dibandingkan dengan kegiatan SMA lain. Akan tetapi, kami memiliki banyak sekali kegiatan internal. Kegiatan internal ini menguatkan relasi dengan teman-teman seangkatan maupun lintas angkatan. Hal ini lah yang membuat anak Teladan tidak ragu untuk saling sapa ketika tidak sengaja bertemu di temat umum meskipun mereka tidak begitu saling mengenal.

***

Jadi, ya, begitu. Tidak ada hal aneh yang diajarkan di Teladan, insyaallah. Kalau Teladan dituduh mengajarkan suatu hal yang tidak wajar untuk diajarkan di SMA negeri yang lain, aku akan setuju kalau hal itu adalah berproses menjadi lebih baik.

Teladan? Jayamahe!
Teladan? Jayamahe!
Teladan? Jayamahe!

Advertisements

A Paragraph, If I May Say..

CA 2

..and talking about him beyond his knowledge just makes me more like a sinner and a desperate lover. At first I thought my word vomit will bring ease to my heart, and now.. well, I hope it does.

Welcomed | Happy Eid Mubarak!

Happy Eid Mubarak, my fellow Moslem from all over the world!
Taqaballahu minna waminkum, shiyamana wa shiyamakum.
May all of us live in peace and happiness for the rest of our lives, aamiin yaa rabbal alamin.

As we all know, on July 28, all Moslem celebrated Aidilfitri, the holy day. Why does that day is called as ‘the holy day’? This year’s July 28 happened to be as the exact day of Syawal 1. Syawal is the month after Ramadhan on the Islamic calendar. On 30 days of Ramadhan, we are fasting to ‘fight against lust in general’. And then when Ramadhan ends and Syawal comes, we celebrate our winning against lust by having an Aidilfitri prayer (sholat) on the 1st day of Syawal.

I’m not going to utter about Aidilfitri in this post. Today I’d like to share a story about my warm-hearted high school seniors.

As an Indonesian, we have the tradition to say “Happy Eid Mubarak, taqaballahu minna waminkum,” kind of stuffs to our family and fellow friends. People also sometimes write a beautiful full-of-rhyme poem just to say ‘Happy Eid Mubarak’. Instead of only saying those words mouth-to-mouth, we sometimes broadcast the message to every people in our phone contact book (though honestly I rarely do that because I always get awkward while writing those formal texts).

This year, this exact month, is my first year and my first month as a high school student. I’ve known some people and I’ve known some of my seniors. To be honest, the school I attend, SMA N 1 Teladan Yogyakarta (1 State Senior High School), has a really unique culture compared to other high school. It is kinda religious and the bond between seniors and juniors feels so tight. Though I’ve known some of the students and the activities there, I still haven’t attend a single class in high school. So that means that I haven’t feel like a real high school student.

Today, I recieved two Aidilfitri messages from my seniors. Those messages are from Mbak Amel and Mbak Lala (the word ‘mbak’ is the Indonesian translation for ‘big sis’). I have only met them twice and both of our meetings were less than an hour. We haven’t really know each other so well but they still greeted me a Happy Eid Mubarak. They wish we can still gather on next year’s Ramadhan and they wish me a happy holiday. Mbak Lala even asked me, “Are you ready for becoming a better person?”.

27-ScreenCapture WA Mbak Amel Teladan 57 28-ScreenCapture SMS Mbak Lala

And then I felt.. wut? We barely know each other yet they still care about us, their junior they barely know. Though today is not the first time I received warm messages from my high school senior, I’m still amazed by the way my high school seniors show their affections toward their juniors. They make us feel welcomed by treating us like a part of their family.

And I thought.. what if everyone have this kind of acceptance to new people around them? What if everyone give warm welcome to outsiders among them? I assure you that receiving those kind of warm welcomes made me feel like coming home. And I guess this kind of tradition -welcoming people warmly- is worth to be preserved.

The attention my high school seniors give to us implicitly taught me one thing: share positive vibes everywhere, every time, and to everyone. And as long as we’re alive, why not?

I guess that’s all I want to say. I’m not going to make a long-poetic closure for this post as it’s midnight here and I should go to bed.
So, I guess.. arrivederci! 🙂

Love, CA.