Kalau Hujan

19

kalau hujan tak lagi ragu-ragu
jatuh sajalah di jalan setapak itu
basahi bebatuan yang kering
timpa ia dengan nada berdenting

kalau hujan telah bijaksana
hampiri pohon yang berbunga
barangkali ia masih tersenyum
menunggu hujan yang membuatnya ranum

kalau hujan tak perlu lagi menanti
segeralah ia bertamu pada bumi
sampaikan rindu yang telah tersimpan lama
bagi bunga yang berbahagia karenanya

**
Yogyakarta, 21 September 2016
sebuah puisi balasan terhadap “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono

Advertisements

Probabilitas

Morning Coffee

Bisa jadi kita adalah..
Muda-mudi saling jatuh hati,
Yang tak tahu bagaimana untuk mengawali.
Bisa jadi kita adalah..
Manusia yang pernah saling cinta,
Namun pada waktu yang berbeda,
Hingga rasa itu sirna.
Bisa jadi kita adalah..
Pemimpi yang membuta dari realita,
Terus berharap bahwa di seberang ada gejolak yang sama.

Atau!
Bisa jadi kau adalah penyaji kopiku di pagi hari..
Dan aku adalah pengikat dasimu sebelum kau pergi..
Bisa jadi kita adalah sepasang insan surgawi.

Atau..
Bisa jadi kita adalah sandiwara terhebat karangan-Nya.

-CA

Enam Belas

47

Enam belas,
Jadilah tahun yang baik.
Tahun penuh cinta dan bahagia.
Tahun ketika harapan tak sekedar angan belaka.
Jadilah tahun yang mendewasakan dan hilangnya keraguan.

Kepada para terkasih,
Terima kasih untuk kembali mengingat
Apa yang dalam hidup ini hanya sekedar terlibat.

Dengan haru berbalut rindu, 29 Januari 2015
Aku yang senantiasa berusaha membahagiakanmu.

Izinkan

Jika dulu, kau torehkan luka bernanah di diriku, maka kini, yang ada hanyalah keropeng lukaku. Waktu telah membekukannya, bukan menyembuhkannya. Rasa sakit itu masih ada meski tak kentara. Dan izinkan aku untuk menyembuhkan diriku dengan sekali lagi merasakan rasa itu. Keropeng itu, gugurkanlah. Sehingga kelak yang ada hanyalah bekas luka yang telah menerimamu apa adanya. Izinkanlah aku meminta, sekali ini saja, karena aku ingin kau ada.. tanpa lagi menimbulkan luka.

Izinkanlah aku.. untuk berdamai dengan kata kita yang pernah ada.

Two Years From Now

Freedom

Two years from now, the day I turn 17,
I’ll be gaining my freedom.
I’ll run as fast as I can, as far as I want.
I’ll be as free as a bird, flying towards the sky of freedom.
I won’t look below as I’m done with it. I’m done with the ground, I’m done with gravity.
There will only be me, having my rights freely completely, even my right to go to other galaxy.
I’ll discover new things that I’ll enjoy myself.

Two years from now, I’ll be.

Dear Juliet #1

Pen Writing

Dear Juliet,
Do you believe in fate, my dear Juliet?
As I am trapped in my not-so-beautiful exam room, I started to think of how fate controls us.

What do you think I should do, Juliet, if I feel that I don’t belong here, a place where I should go if I want to go to where I really want to?
What do you think I should do, Juliet, if a girl who loves poetry, arts, and chatter like me stays in a dull place which is lack of singing souls?

Dear Juliet,
Don’t you think that ‘forcing’ is a bad thing?
What can we girls do if we were forced to do things while our hearts don’t want to sing?
Don’t you think that every jingling bells is a blessing and so do our feelings?

And O Juliet,
Why does this happen to us?
To the flesh who have smooth red cheeks when we blush.
Why should we are the one who give a buzz and not those greedy men who never give a buzz?

And O dear Juliet,
May I ask whether do you agree with me?
Dear Juliet,
You’re far from your Romeo,
And I am far from my places-to-go.

I don’t know what to do, my dear Juliet.
Why us? Why girls? Why locked?
My dear Juliet,
Am I a sinner if I blame the sky?
Am I a sinner for not being a faithful follower?

Dear Juliet,
Please give me an answer,
As we both are far from being a winner.

Love,
Me, the one who’s  not ready to flee.

Sejak Kapan

325

 

 

 

 

 

 

 

Sejak kapan,
Hati ini kembali berbunga.
Sejak kapan,
Mata ini mencari jejak hadirnya.
Sejak kapan,
Telinga ini menguping perkatanya.
Sejak kapan,
Jantung ini berdegup lebih kencang karenanya.

Dan bahkan aku sendiri tak tahu,
Sejak kapan kau mencuri perhatianku.

Ada sesuatu, dalam berat dehammu, dalam renyah tawamu, dalam lantang suaramu,
Yang membuat otakku jungkir balik tak menentu.

Ada sesuatu, dalam lekuk indah bibirmu, dalam tegap jalanmu, dalam tajam tatap matamu,
Yang membuat hatiku meledak hingga darah mengalir membuat pipiku bersemu.

Aku ingin berhenti, sebelum semua menjadi tak berarti.
Aku ingin berhenti, sebelum ada hati yang tersakiti.

Tetapi, bahkan aku sendiri tidak tahu,
Sejak kapan aku ingin melanjutkan semua ini denganmu.