Bukan Konsumsi Seorang Gadis

20(Disclaimer: this post is written in Indonesian because my target audience is any Indonesian, especially Indonesian parents)

Apabila kita menilik sejarah, Indonesia sudah sejak lama menganut sistem patriarki, sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Laki-laki dinilai lebih kuat dan lebih tangguh daripada perempuan. Oleh karena itu, laki-laki berperan sebagai tulang punggung keluarga sementara perempuan lebih berperan sebagai penunjang kesuksesan laki-laki.

Sistem patriarki mungkin saja tumbuh di Indonesia berkat pengaruh berbagai pihak. Bisa saja sistem tersebut merupakan peninggalan budaya kerajaan-kerajaan masa lalu di Indonesia. Bisa juga sistem tersebut merupakan pengaruh agama tertentu yang memberikan pengajaran bahwa sejatinya mencari nafkah adalah tugas laki-laki sementara mengurus rumah tangga adalah tugas perempuan.

Budaya tetaplah budaya, suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Apabila sistem patriarki sejauh ini masih cocok dengan ideologi mayoritas masyarakat Indonesia, maka tak mengapalah sistem tersebut masih dilangsungkan. Apabila sekelompok masyarakat Indonesia masih sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja mereka meneruskan paham tersebut ke anak turun mereka. Apabila sekelompok masyarakat sudah tidak sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja pula mereka. Menurunkan suatu tradisi dari generasi ke generasi lain adalah kebebasan setiap individu, jadi tak perlulah ada perdebatan sengit di antara individu yang saling mencemooh ideologi masing-masing. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika hendak menurunkan suatu paham, termasuk paham patriarki, kepada generasi selanjutnya: kesiapan generasi tersebut.

Sebelum kita membahas mengapa kesiapan suatu generasi perlu diperhatikan sebelum dipaparkan terhadap suatu paham, terutama paham patriarki, mari kita mengingat kembali kisah RA Kartini, pahlawan nasional pejuang kesetaraan hak bagi perempuan. RA Kartini terlahir pada 21 April 1879 di keluarga priyayi (kaum bangsawan Jawa). Pada usia 12 tahun, RA Kartini dipingit, yakni dilarang ke luar rumah. Adat pingit membatasi RA Kartini (dan ribuan perempuan lainnya pada zaman itu) dari berbagai hal, seperti menuntut ilmu di bangku sekolah. RA Kartini dipingit sampai beliau menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang bahkan tidak beliau kenal sebelumnya.

Sistem patriarki zaman sekarang memang hadir dalam wujud yang berbeda apabila dibandingkan dengan sistem patriarki yang ada pada zaman RA Kartini. Pada zaman sekarang, adat pingit memang sudah hampir tidak ada. Akan tetapi inti dari pemikiran sistem patriarki masih ada: bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga dan perempuan berada di dapur saja.

Saya bukan seorang feminis pun seorang feminazi. Saya hanya merasa prihatin terhadap gadis-gadis Indonesia di luar sana yang masih menerima ungkapan “Kamu itu perempuan. Buat apa kamu berkarier? Perempuan berada di dapur saja.” Terlebih apalagi apabila gadis-gadis itu diperdengarkan dengan kalimat semacam “Buat apa kamu bersekolah tinggi apabila pada akhirnya kamu bertugas mengurus rumah tangga?”

Perlu orang-orang perhatikan bahwa seringan apapun perkataan yang terucap, apabila perkataan tersebut memiliki maksud untuk mempengaruhi seorang gadis untuk percaya bahwa takdirnya berada di dapur, gadis tersebut lama-kelamaan akan terpengaruhi. Lama-lama akan tertanam di benaknya bahwa apapun yang ia lakukan, ia akan menikah dan mengurusi keluarga. Karena gadis itu sudah terdoktrin, gadis tersebut tidak lagi akan serius dengan studinya. Ia tidak lagi memiliki cita-cita sebagai seorang individu. Cita-citanya beralih pada satu hal: membangun keluarga yang bahagia.

Membangun keluarga yang bahagia tentu adalah cita-cita yang mulia. Namun apabila hal itu merupakan satu-satunya cita-cita seorang gadis (yang tentunya belum menikah), yang benar saja?! Tidak ada yang bisa menjamin bahwa seorang gadis akan mendapatkan pasangan begitu ia lulus dari sekolah. Pun tidak ada yang bisa menjamin bahwa kebutuhan seorang gadis dapat dipenuhi oleh orang tuanya hingga gadis tersebut dipinang.

Seorang gadis harus memiliki ilmu yang tinggi. Ia harus dapat mandiri karena ketidakpastian itu selalu ada. Tidak ada yang menjamin bahwa pernikahan bisa memenuhi semua kebutuhan perempuan. Jika ternyata laki-laki tidak dapat memenuhi perempuan yang menjadi istrinya, perempuan tersebut bisa membantu sang laki-laki mencari nafkah. Pada dasarnya, menjadi seorang istri atau tidak, seorang perempuan harus berpendidikan tinggi. Toh generasi penerus bangsa pun memerlukan ibu yang cerdas sebagai ‘sekolah pertama’-nya apabila generasi penerus bangsa tersebut diharapkan membawa kebaikan.

Oleh karena itu, apabila seseorang hendak meneruskan paham patriarki dengan menasihati seorang perempuan mengenai prioritasnya (karier atau keluarga), lakukanlah kepada perempuan yang sudah siap, perempuan yang sekiranya sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Jangan katakan hal itu kepada seorang gadis yang masih belajar dan masih memperjuangkan cita-citanya. Jangan rusak cita-cita seorang gadis dengan visi yang belum pasti kapan akan terjadi.

Advertisements

3 Right Things

Since I felt a little wiser today, I would like to tell all of you guys about 3 right things that my self believe that. It is based on my previous studies about this life -my opinion-, so I am not forcing you to trust my words.

May I ask whether these pleasing attentions proceed from the impulse of the moment, or are the result of previous study? -Mr. Bennet, Chapter 14, Pride and Prejudice, Jane Austen

Don’t laugh at cliché phrases; when we fall in love, sometimes cliché phrases can be the only thing which feel right to describe us. Like, when we aren’t in love and hear someone said, ” And when you came, I can see the real life,” or, ” And after I met you, my life changed,” or, ” Home is wherever I’m with you,” or, ” I will love you to death, I promise,”, we will laugh at him/her and saying, ” Lolwut? Don’t be stupid! Be realistic!”. Well, that’s true, that’s silly, that’s stupid. But, dang, no! That isn’t silly nor stupid. Lolwut what did I mean? Well, what I mean is when you fall in love, anything could happen. You may assume that everything is right. Well, that is love. It can makes you being stupid, being selfless also selfish. When we fall in love, it feels like we can rule the world.. like there is nothing important in this life than us. Even though, I don’t blame those who laugh at cliché phrases; they haven’t fell in love yet, they haven’t felt the joy of being in love.

So don’t judge a thing by only seeing it from one point of view. You should see it from every possible side, learn it, make your conclusion. It is totally rude if you don’t do some research about the thing and suddenly made a conclusion. Totally rude.

also..

There’s nothing lasts ‘forever’ in this world, except God. I don’t believe in forever. I thought that every phrase with the ‘forever’ word is kinda hyperbolic, like, ” I will love you forever,” or, ” Forever young,” and so on. I think the word ‘forever’ should be replaced with ‘for the rest of my life’. ‘Forever’ is like it won’t ends, it is everlasting. But, dang, God, nothing lasts forever except God, right? It is a kinda misunderstanding here. People may say that saying ‘for the rest of my life’ is too long, and instead of saying that, they just say ‘forever’. It’s alright. It is totally fine even I don’t believe in forever.

That’s all for now. I hope that my opinions will be useful 🙂