Bukan Konsumsi Seorang Gadis

20(Disclaimer: this post is written in Indonesian because my target audience is any Indonesian, especially Indonesian parents)

Apabila kita menilik sejarah, Indonesia sudah sejak lama menganut sistem patriarki, sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Laki-laki dinilai lebih kuat dan lebih tangguh daripada perempuan. Oleh karena itu, laki-laki berperan sebagai tulang punggung keluarga sementara perempuan lebih berperan sebagai penunjang kesuksesan laki-laki.

Sistem patriarki mungkin saja tumbuh di Indonesia berkat pengaruh berbagai pihak. Bisa saja sistem tersebut merupakan peninggalan budaya kerajaan-kerajaan masa lalu di Indonesia. Bisa juga sistem tersebut merupakan pengaruh agama tertentu yang memberikan pengajaran bahwa sejatinya mencari nafkah adalah tugas laki-laki sementara mengurus rumah tangga adalah tugas perempuan.

Budaya tetaplah budaya, suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang diturunkan dari generasi ke generasi selanjutnya. Apabila sistem patriarki sejauh ini masih cocok dengan ideologi mayoritas masyarakat Indonesia, maka tak mengapalah sistem tersebut masih dilangsungkan. Apabila sekelompok masyarakat Indonesia masih sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja mereka meneruskan paham tersebut ke anak turun mereka. Apabila sekelompok masyarakat sudah tidak sepaham dengan sistem ini, maka biarkanlah saja pula mereka. Menurunkan suatu tradisi dari generasi ke generasi lain adalah kebebasan setiap individu, jadi tak perlulah ada perdebatan sengit di antara individu yang saling mencemooh ideologi masing-masing. Akan tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan ketika hendak menurunkan suatu paham, termasuk paham patriarki, kepada generasi selanjutnya: kesiapan generasi tersebut.

Sebelum kita membahas mengapa kesiapan suatu generasi perlu diperhatikan sebelum dipaparkan terhadap suatu paham, terutama paham patriarki, mari kita mengingat kembali kisah RA Kartini, pahlawan nasional pejuang kesetaraan hak bagi perempuan. RA Kartini terlahir pada 21 April 1879 di keluarga priyayi (kaum bangsawan Jawa). Pada usia 12 tahun, RA Kartini dipingit, yakni dilarang ke luar rumah. Adat pingit membatasi RA Kartini (dan ribuan perempuan lainnya pada zaman itu) dari berbagai hal, seperti menuntut ilmu di bangku sekolah. RA Kartini dipingit sampai beliau menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang bahkan tidak beliau kenal sebelumnya.

Sistem patriarki zaman sekarang memang hadir dalam wujud yang berbeda apabila dibandingkan dengan sistem patriarki yang ada pada zaman RA Kartini. Pada zaman sekarang, adat pingit memang sudah hampir tidak ada. Akan tetapi inti dari pemikiran sistem patriarki masih ada: bahwa laki-laki adalah tulang punggung keluarga dan perempuan berada di dapur saja.

Saya bukan seorang feminis pun seorang feminazi. Saya hanya merasa prihatin terhadap gadis-gadis Indonesia di luar sana yang masih menerima ungkapan “Kamu itu perempuan. Buat apa kamu berkarier? Perempuan berada di dapur saja.” Terlebih apalagi apabila gadis-gadis itu diperdengarkan dengan kalimat semacam “Buat apa kamu bersekolah tinggi apabila pada akhirnya kamu bertugas mengurus rumah tangga?”

Perlu orang-orang perhatikan bahwa seringan apapun perkataan yang terucap, apabila perkataan tersebut memiliki maksud untuk mempengaruhi seorang gadis untuk percaya bahwa takdirnya berada di dapur, gadis tersebut lama-kelamaan akan terpengaruhi. Lama-lama akan tertanam di benaknya bahwa apapun yang ia lakukan, ia akan menikah dan mengurusi keluarga. Karena gadis itu sudah terdoktrin, gadis tersebut tidak lagi akan serius dengan studinya. Ia tidak lagi memiliki cita-cita sebagai seorang individu. Cita-citanya beralih pada satu hal: membangun keluarga yang bahagia.

Membangun keluarga yang bahagia tentu adalah cita-cita yang mulia. Namun apabila hal itu merupakan satu-satunya cita-cita seorang gadis (yang tentunya belum menikah), yang benar saja?! Tidak ada yang bisa menjamin bahwa seorang gadis akan mendapatkan pasangan begitu ia lulus dari sekolah. Pun tidak ada yang bisa menjamin bahwa kebutuhan seorang gadis dapat dipenuhi oleh orang tuanya hingga gadis tersebut dipinang.

Seorang gadis harus memiliki ilmu yang tinggi. Ia harus dapat mandiri karena ketidakpastian itu selalu ada. Tidak ada yang menjamin bahwa pernikahan bisa memenuhi semua kebutuhan perempuan. Jika ternyata laki-laki tidak dapat memenuhi perempuan yang menjadi istrinya, perempuan tersebut bisa membantu sang laki-laki mencari nafkah. Pada dasarnya, menjadi seorang istri atau tidak, seorang perempuan harus berpendidikan tinggi. Toh generasi penerus bangsa pun memerlukan ibu yang cerdas sebagai ‘sekolah pertama’-nya apabila generasi penerus bangsa tersebut diharapkan membawa kebaikan.

Oleh karena itu, apabila seseorang hendak meneruskan paham patriarki dengan menasihati seorang perempuan mengenai prioritasnya (karier atau keluarga), lakukanlah kepada perempuan yang sudah siap, perempuan yang sekiranya sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Jangan katakan hal itu kepada seorang gadis yang masih belajar dan masih memperjuangkan cita-citanya. Jangan rusak cita-cita seorang gadis dengan visi yang belum pasti kapan akan terjadi.

How Every Street Campaign Should Have Been

There was a spectacular street campaign on Malioboro Street, Yogyakarta, Indonesia on June 24, 2014. As the presidential election is going to be held on July 9, 2014, the supporters of both candidates (Jokowi-Jusuf Kalla and Prabowo-Hatta Rajasa) have started the street campaign.

In Indonesia, every street campaign is brutal. The supporters of a candidate are roaming around the city with their made-up noisy motorcycles. And sometimes, the street campaign triggers a street fight between two sides who have the slightest mutuality. I really don’t get it why the supporters do that, the fight and made-up noises. I suppose those things tend to make people hate them more, isn’t it?

Just yesterday, I went to Malioboro and found a LOT of people gathered on the Malioboro Street to do a silent campaign. Well, not really silent, but it’s way more quiet and polite. Those people are non-party people around Malioboro who supports Jokowi-Jusuf Kalla. They held a parade around Malioboro. I’m not sure where did the parade started and ended, but I’m pretty sure the parade went through Malioboro and Kraton Yogyakarta.

What makes me think that the parade was how every street campaign should have been like is how effective, polite, and bewitching it is. They didn’t do any anarchy gestures, instead they smiled. They didn’t make useless loud noises, instead they sing a song about Jokowi-Jusuf Kalla accompanied by our traditional instruments (gamelan). Though it is one of the political strategies to win the election, it’s entertaining and not nauseating. I’m not talking about politics nor a candidate here, and by writing this doesn’t mean that I support a particular candidate (I’m still too young to understand politic), but what I really want to say is that I hope every street campaign is like this, or maybe better than this. I hope that every street campaign is educating, entertaining, and true.

Here, I’ll show you some pictures I got yesterday:

DSCN0105 DSCN0096 DSCN0103 DSCN0137 DSCN0106 DSCN0114 DSCN0109 DSCN0113 DSCN0104

Pawitikra 014’s Graduation Day!

So on June 22, I and the rest of Pawitikra’s 9th graders graduated. Apparently, I’m a part of the class 9.4, Exinfour, Extraordinary Inter Four. Our graduation day was amazing and emotional (you know how graduation day is). Here I’ll post some pics of our graduation day:

My classmates and I in front of our classroom.

My classmates and I in front of our classroom.

My classmates and I in our school hall.

My classmates and I in our school hall.

Some of the ladies of Exinfour.

Some of the ladies of Exinfour.

Some of the gents of Exinfour.

Some of the gents of Exinfour.

The DeNFaFi.

The DeNFaFi.

I, Rizki Ayu, Adelia P, and a half of Mar'atul Jannah

I, Rizki Ayu, Adelia P, and a half of Mar’atul Jannah

I and the beautiful Cindy Wieke.

I and the beautiful Cindy Wieke.

I and the beautiful Pravistiarani Adia.

I and the beautiful Pravistiarani Adia.

Exinfour's smarty pants: Adelia P and Halida D.

Exinfour’s smarty pants: Adelia P and Halida D.

Halida D, I, and the cheerful Firsty L.

Halida D, I, and the cheerful Firsty L.

I and Halida D

I and Halida D

The most critical thinking girl on earth Deasita, I, and Adelia P.

The most critical thinking girl on earth Deasita, I, and Adelia P.

P1050003

The awesome Hanqenina D and I.

The beautiful Mar'atul Jannah and I.

The beautiful Mar’atul Jannah and I.

The awesome Putri Faizah and Tsany Raihanah.

The awesome Putri Faizah and Tsany Raihanah.

Deasita and Adelia P. Best friend foreva!

Deasita and Adelia P. Best friend foreva!

Adelia P and Rizki Ayu.

Adelia P and Rizki Ayu.

Rizki Ayu and Mar'atul Jannah.

Rizki Ayu and Mar’atul Jannah.

Deasita and Rizki Ayu.

Deasita and Rizki Ayu.

Rizki Ayu and Tsany Raihanah.

Rizki Ayu and Tsany Raihanah.

The three besties: Putri F, Luthfi U, and Mar'atul Jannah.

The three besties: Putri F, Luthfi U, and Mar’atul Jannah.

DSCN0060 DSCN0063

Ardini Batrisya, I, and Afif H Jovian!

Ardini Batrisya, I, and Afif H Jovian!

My beautiful friends Pravistiarani Adia, Tsany R, Aulia Deshinta, and Dinda S.

My beautiful friends Pravistiarani Adia, Tsany R, Aulia Deshinta, and Dinda S.

Stick your tongue!

Stick your tongue!

DSCN0052

Putri F and Ahmad Dhira.

Putri F and Ahmad Dhira.

Hanin Caya and Ahmad Dhira.

Hanin Caya and Ahmad Dhira.

Dea Er and Ahmad Dhira.

Dea Er and Ahmad Dhira.

Luthfi U and Ahmad Dhira.

Luthfi U and Ahmad Dhira.

I and Ahmad Dhira.

I and Ahmad Dhira.

Adelia P and Ahmad Dhira.

Adelia P and Ahmad Dhira.

Firsty L and Ahmad Dhira.

Firsty L and Ahmad Dhira.

Fanny R and Ahmad Dhira.

Fanny R and Ahmad Dhira.

I and Dinda S.

I and Dinda S.

Hanin Caya's family.

Hanin Caya’s family.

At last, all I can say is “Happy Graduation!”. I’m gonna miss Exinfour 😦

Semoga wisuda kali ini bukan berarti jalan keluar, tapi pintu masuk buat mimpi-mimpi yang baru. Semoga kita bisa bertemu dalam keadaan yang lebih sukses lagi. 🙂 -Deasita

Surat Kepada Cucu

Typewriter

Dear cucuku.
Nenek menulis surat ini ketika nenek masih bersekolah dan masih muda, ketika nenek belum bertemu dengan kakekmu -yang saat ini hanya Tuhan yang tahu siapa namanya dan dimana keberadaannya-, dengan harapan nenek bisa menyampaikan sesuatu dengan seakurat mungkin.

Dear cucuku, kali ini nenek akan bercerita tentang sesuatu yang kalian harus tau. Nenek akan bercerita mengenai masa kini, masa ketika nenek masih muda. Kenapa nenek menceritakan ini? Karena nenek ingin kalian semua tahu apa yang terjadi pada masa-masa sebelum kalian dilahirkan. Pada masa-masa ketika kegilaan dimulai.

Surat ini nenek tulis pada tahun 2014. Tak perlu nenek sebutkan bulan dan tanggalnya dengan tepat karena cepatnya pergantian bulan dan hari itu tidak ada apa-apanya dengan cepatnya pergantian tahun. Setiap hari dunia semakin menggila dan nenek sangatlah takut apabila kegilaan ini tidak ada hentinya. Nenek takut apabila kegilaan ini mencapai masamu. Semoga saja tidak.

Cucuku, nenek terlahir pada tahun 1999. Akhir dari era 90-an, era yang terbaik menurut nenek. Nenek lahir sebagai anggota generasi Y yang sudah menyerempet generasi Z, generasi yang hidup langsung difasilitasi oleh teknologi yang teramat sangat mencukupi. Kalian tak tahu generasi Y ataupun Z? Cari di Google, Cu, semua ada di sana. Oh iya, Google adalah mesin pencari informasi yang luar biasa cepat (kerap disebut sebagai Mbah Google atau Nenek Google -Mbah adalah bahasa Jawa-nya nenek jika di masa kalian bahasa Jawa sudah tidak ada- karena Google mengetahui segalanya, seperti nenek yang sudah tua dan berpengalaman banyak) jika kalian  tidak tahu.

Ada untungnya sebagai seseorang yang terlahir pada masa itu. Tentu saja semua ada pros dan cons. Kelebihannya adalah saat nenek lahir, nenek sudah difasilitasi oleh teknologi yang cukup (tidak terlalu kurang maupun berlebihan) sehingga nenek dengan mudahnya mengikuti perkembangan teknologi. Kekurangannya, semua orang pada generasi nenek memiliki masa remaja yang sangat rawan akibat gilanya dunia. Biar nenek jelaskan.

Saat nenek masih balita, ponsel genggam paling awal baru mulai bermunculan setelah adanya pager (orangtua nenek lah yang sempat menggunakannya, nenek tak tahu). Fungsi dari ponsel genggam itu masih sebatas untuk berkirim pesan dan telepon. Terkadang ada kalender maupun kalkulatornya, tetapi ponsel genggam itu hanyalah berwarna dasar kuning kusam dan hitam. Sangat jelek jika dibandingkan ponsel genggam jaman sekarang (jaman remaja nenek yang sudah memiliki smartphone).  Internet pun belum dikenal masyarakat luas. Jangankan menonton video di YouTube, orangtua nenek saja masih harus ke warung internet untuk mendapat akses internet terbatas.

Saat nenek balita, nenek merasakan masa kecil yang menyenangkan. Nenek senang menonton kartun seperti Teletubbies, Winnie the Pooh, Spongebob Squarepants, dan sebagainya. Nenek mendengarkan lagu penyanyi Tasha Kamila dan Joshua Suherman ketika masih kecil. Nenekpun masih mendengarkan lagu seperti “Jangan Takut Gelap” sebagaimana anak kecil kerap takut gelap. Setelah nenek pikir-pikir, nenek memiliki masa kecil yang sangat beruntung dan menyenangkan.

Ketika nenek bersekolah di sekolah dasar, ponsel genggam pun hanya dimiliki oleh orang tua. Nenek sering pinjam milik nenek buyut kalian. Nenekmu yang masih kecil itu pun juga baru belajar menggunakan e-mail.

Nah, cucuku, waktu berjalan sangat cepat. Ketika nenek mau mulai bersekolah di sekolah menengah pertama, nenek mulai merasakan semua kegilaan dunia. Teknologi disalahgunakan. Manusia semakin bodoh. Menurutmu, bagaimana kondisi nenek yang mengalami masa remajanya -masa-masa penuh kegalauan- ketika dunia pun masih porakporanda? Mau tahu apa saja kegilaan dunia? Biar nenek jelaskan. Tetapi sebelumnya, kalian harus tahu bahwa nenek muak dengan itu semua.

Contoh pertama mengenai kegilaan dunia: penyalahgunaan teknologi. Kalian tahu, kan, bahwa sebenarnya teknologi itu untuk memudahkan pekerjaan manusia? Nah, internet adalah salah satunya. Asal kalian tahu, internet awalnya dibuat untuk menghubungkan komputer, tetapi kini fungsinya bermacam-macam. Hal positifnya adalah seperti menjaga silaturahim dari jejaring sosial, mendapatkan informasi dengan cepat, dan sebagainya. Hal negatifnya? Demi Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang! Karena manusia semakin bodoh, pornografi tersebar di internet. Itu sangat menjijikkan! Maksud nenek, bukankah hubungan suami-istri yang kerap di unggah itu sebenarnya sesuatu yang suci, sesuatu yang kitab suci pun melarang kita untuk memberitahukannya kepada siapa-siapa? Bukan orangtua kita yang melarangnya, tetapi TUHAN sendiri, dan kenapa manusia masih melanggarnya? Maaf nenek melantur, tetapi itu semua benar. Dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula kegilaan dunia.

Contoh kedua mengenai kegilaan dunia: salah asuhan. Begini, nenek adalah orang yang percaya bahwa kata ‘orangtua’ mengemban beban dan peran yang berat dan bukan hanya merupakan julukan bagi ‘siapa sajakah orang yang Tuhan gunakan untuk menciptakanku’. Orangtua bertugas untuk mengasuh keturunannya agar menjadi manusia yang baik. Nah, saat nenek menulis surat ini, banyak anak segenerasi nenek yang mendapat salah asuhan. Banyak anak yang beberapa tahun lebih muda dari nenek yang sudah berpacar-pacaran. Cucuku, saat ini sudah banyak anak sekolah dasar yang sudah berpacaran, mengucap kata ‘cinta’ kepada lawan jenisnya tanpa tahu apa makna sebenarnya. Kau tahu penyebabnya? Tayangan televisi yang tidak mendidik, yang hanya mengenai sepasang kekasih. Lebih lagi, banyak anak yang seumuran nenek yang sudah kecanduan narkoba dan terjerat pergaulan bebas. Demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?!

Contoh ketiga mengenai kegilaan dunia: kecanduan teknologi. Entah kenapa teknologi berperan penting dalam berkembangnya kegilaan ini, begitu menurut nenek. Zaman nenek buyut kalian muda, manusia berinteraksi dengan bertemu langsung. Mereka menyampaikan apa yang hendak mereka sampaikan melalui suara dan gestur tubuh. Mereka menyatakan cinta terkadang sambil malu-malu menyerahkan bunga. Nah, apa yang terjadi pada zaman nenek sekarang? Ping, ping, dan ping! Kebanyakan percakapan berlangsung melalui dunia digital. Bahkan ketika manusia saling berkumpul, mereka tetap menggunakan ponsel genggam dan mengabaikan yang lainnya. Sakit apa mereka? Manusia zaman sekarang ibarat zombie, hidup tapi tak hidup. Memuakkan.

Nah, cucuku, nenek takut apabila semua kegilaan ini masih ada pada masamu. Nenek takut apabila kegilaan ini akan berlangsung lama. Apabila dunia tetap gila, nenek takut kalian akan menjadi gila. Bahkan mungkin saat ini kegilaan mencoba menggerogoti nenekmu ini. Nenek tidak mau hidup dalam kegilaan dan nenek tidak mau dunia selamanya hidup dalam kegilaan. Karena itulah nenek bercerita. Nenek ingin kalian tahu betapa gilanya hal-hal yang mulai terjadi dan nenek ingin kalian menghindarinya, mencegahnya, dan menghentikannya. Memang bukan yang mudah, tetapi bukankah dunia yang tidak gila lebih nyaman untuk ditinggali?

Nah, sekian surat nenek. Nenek menyayangimu.

**
Sekedar fiksi.

Are You Sure That You Love “The Movie”, Not The Touching Plot Nor The Cast?

Are you sure that you love the movie, not the touching plot nor the cast?

Well, that is a question you must ask to yourself after watching a movie.

We, people who don’t know anything about the film industry sometimes say “I like that movie” and “I hate that movie” without any further thinking. Well, I admit it that sometimes I do. And after I thought for a long time, I think that judging something without further thinking is rude. Especially when it comes to movies.

As a viewer of a movie, I think it is easy to assess how good is a movie or how interesting is the movie. We, viewers, want satisfaction from what we watch and we always have that thinking of what satisfy us is a good thing. It depends on us, on our taste. We people have different lists of ‘things that satisfy us’. Like happy endings, romantic plot, good looking actor/actress, etc. And.. yeah, you can bring that list when you judge a thing you want to buy, but you can’t bring that list when you watch a movie. By judging a movie based on your list, I guess you do an unfair thing, you decide whether something is good or not by your taste, not by the quality.

I’m not someone who’s in the film industry or someone who have made big hits movies before, but as someone who have experienced the life of a movie maker (Well, not really. It’s just a school project), I know how hard it is to make a movie. Making a twisty plot which is able to entertain people yet still containing a moral value is hard. Moreover, directing the casts to act like how they should based on the script is also hard. Editing the movie. Adding special effects to the movie. All of those steps involves creativity and patience.

Behind The Scenes

So.. I guess it is not fair to judge a movie based on our list of ‘things that satisfy us’. I guess those immature words such as “She’s not pretty!” or “Hello?! I need a happy ending!” or “It’s not entertaining at all! All those people do is just wandering around like saints and say good things! I want a more alive characters, characters who say f*ck like every one minute!” is not fair. Well, what if the scriptwriter and the director made the movie like that? What if in the script, the female characters are described as ‘a not-very-appealing girl’? We don’t know.

Sure, we’re totally allowed to comment a movie, but our comments should be based on reasonable things. When we comment a movie, we should also remember that making a movie is not as easy as it seems. Our comments should be able to improve the quality of the next movie released.

Then, what aspects can we assess so that we can decide whether we love a movie or not? Easy. Change your POV and let yourself be a director for a while. There’s a lot of aspects we can assess. Like how the cast brought the characters, are they good or not? Or the plot, is it fresh and original or is it just copying the plot of the last hit movie? Or the appearance of the casts (you may assess it if you’re dying to, haha kidding), is their make up is well done or not? See?

So, I guess that’s how we should assess a movie. Assessing a movie by seeing a movie inside and out or assessing a movie from the POV of a director (plus the act of appreciating the movie for the work of the crew though the movie is awful) can really makes your head clear and able to give a strong reasonable answer and explanation when someone ask you “Do you love the movie or not?”.

So I guess that’s it. FYI, I wrote those things above because I’m kinda mad at the movie and TV programs my local TV channels provide. My local TV channels can’t even provide one truly educating program! #GodBlessIndonesia

So, I think I’m going into a hiatus for a while, my final national exam is coming up this May. I’m sorry but I gotta stay focus. Please give me your support and prayer, and I hope your life will be la vie en rose. 🙂

Arrivederci!

Days Worth Life and Death

I know it’s so late to post this but it’s better late than never, right?

On September 2013, my school was visited by foreign people from Australia. There was a student exchange program between my school -SMP 5 Yogyakarta, Indonesia- and Portland Secondary School, Australia. One of my classmate, Cindy, was one of the hostfams. She lived with Tiarna Jane Reynolds.

Tiarna was in Yogyakarta for about 7 days. I didn’t get to know her activities well but all I know is that she visited many tourism objects with Cindy and Cindy’s family. For me, it was interesting to have Tiarna as a member of my class for a week. She’s so lively and low profile. She loves visiting children on the orphanage. Although she’s so shy when she was in Indonesia, I and my friends adore her.

When it was near the time when she must go back to Australia, I and my friend Adelia had an idea to make a scrapbook of us. So we made it and gave it to her on her last day in my school. Here’s some pictures of me, my classmates, and Tiarna:

DSC03734

DSC03735 DSC03737 DSC03739 DSC03743 DSC03746 DSC03747 DSC03749 DSC03756 DSC03759 DSC03760 DSC03763 DSC03764 DSC03766 DSC03767 DSC03778

You may ask me why did I gave this post a title “Days Worth Life and Death”. You may get confused or weird about it. It’ s okay.
What I mean by it is that I’m very grateful of days I had with my friends -in this case especially Tiarna. Those days I had are so precious to me even  some of them were bad days. Those days -whether good ones ore bad ones- are days which later be one of my history. Ah. I’m talking nonsense. Sorry hehe.

Sorry if this post is so useless, but it’s been a while since I last post something about my life/experience.

Satu Millenium

Terkadang para penguasa tak tahu,
Ketika rakyat cerdas bersatu,
Meneriakkan kebebasan yang mereka anggap angin lalu.

Maka terdengarlah letupan, desingan, dan hujatan,
“Persetan dengan peraturan!
Enyahlah segala kaku yang rancu!”

Izinkanlah aku pada jalanku,
Maka aku satu millenium lebih maju.

Demonstrasi 1