I Am Sarahza: A Proof That The Butterfly Effect Exists

50_no_mere_coincidence

(Disclaimer: this post is written in Indonesian because I Am Sarahza is also written in Indonesian)

Saya tidak akan me-review karya keenam Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra dari A sampai Z karena saya yakin banyak orang yang bisa melakukannya lebih bagus dari saya. Alih-alih, saya akan merefleksikan perjalanan perasaan saya beserta beberapa bulir hikmah yang saya garis bawahi ketika membaca I Am Sarahza, sebuah rekam jejak perjuangan Hanum dan Rangga menanti buah hati selama hampir 12 tahun.

I Am Sarahza merupakan ‘buku sejarah’ perjuangan Hanum dan Rangga menanti keturunan. Sebagaimana semestinya perjuangan, novel ini menceritakan perjuangan dalam rentang waktu yang panjang, yakni sekitar kurang lebih sebelas tahun. Cerita diawali dengan pertemuan Hanum dengan Rangga di parkiran FKG UGM dan diakhiri dengan kelahiran putri mereka, Sarahza Reashira, sebelas tahun kemudian. Di antaranya? Perjuangan hebat seorang perempuan untuk go straight outta hell alive: 5x inseminasi buatan, 20x terapi herbal, dan 6x bayi tabung (IVF).

Kenapa harus banget pakai diksi go straight outta hell ya karena perjuangan Hanum masyaallah banget. Gimana enggak? Kesuburan seorang perempuan itu—setuju nggak setuju, percaya nggak percaya—sebuah aset berharga, sebuah nilai plus bagi seorang perempuan. Dalam I Am Sarahza, Hanum menceritakan dengan gamblang sebelas tahun pernikahannya yang dihantui oleh pertanyaan “suburkah aku?”. Selama sebelas tahun, batinnya bergulat mempertanyakan nilai dirinya sendiri, nilai yang seharusnya bisa ia banggakan sebagai bagian utuh dari dirinya.

The Butterfly Effect

Perjuangan dan pergulatan batin sebelas tahun Hanum menurutnya berakar pada satu kejadian penting dalam hidupnya. Saat itu, pada perayaan ulang tahun ke-2 pernikahan mereka, Hanum berkata kepada Rangga:

“Buatku nggak punya anak juga nggak papa.”

Bum! Kalimat tujuh kata itu dengan mantap mengalir dari bibir Hanum. Diceritakan, pada saat mendengarnya, Rangga takut bahwa perkataan Hanum akan diamini malaikat yang mendengarkan.

Kalimat emosional itu merembet keluar karena Hanum pada saat itu tidak ingin menomorduakan kariernya sebagai presenter TV di bawah kepentingan keluarga, yakni mengusahakan keturunan sebelum keadaan semakin rumit. Sebenarnya, perasaan Hanum bisa dipahami. Pada saat itu, ia tengah menjalani kehidupan yang ia inginkan—berkecimpung di dunia media—setelah selama enam tahun berkutat pada dunia yang tidak ia nikmati—kedokteran gigi. Sebagai seseorang yang tengah mencicipi terpenuhinya kebutuhan akan self-actualization, jelas Hanum tidak akan semudah itu melepas sumber kebahagiaannya hanya demi menemani Rangga kuliah di Austria.

Akan tetapi, terlepas dari relativitas benar-salah terhadap persepsi masing-masing orang, tidak selalu apa yang bisa dipahami itu harus dibenarkan. Dampak dari perilaku Hanum muda yang dilandaskan pada emosi dan ego ternyata menggema melintasi ruang waktu hingga sebelas tahun kemudian dan juga seterusnya. The Butterfly Effect, suatu perubahan atau tindakan kecil di masa lalu dapat berdampak besar di masa depan. Sehingga, bisa kukatakan bahwa bulir hikmah utama dan terpenting dari cerita ini adalah selalu berhati-hati dalam setiap tindakan, seremeh apapun tindakan itu, seremeh berbicara.

The Playbook

Penantian Hanum dan Rangga yang diceritakan dalam novel ini mengingatkanku akan suatu kejadian lampau yang pernah kualami. Pada saat itu, aku tengah bersekolah di tingkat 2 suatu sekolah dasar yang luar biasa. Guru kami dan asistennya akan mengajari kami cara menyusun “jaring-jaring laba-laba” dari dua bilah kayu yang disilangkan dan gulungan benang warna-warni. Karena keterampilan itu perlu pengarahan dan pembiasaan sekitar sepuluh menit, murid-muridnya dipanggil secara bergantian. Mereka hanya memanggil dua murid setiap sepuluh menit. Sehingga, untuk mengisi waktu menunggu giliran, mereka menginstruksikan kami untuk bersantai di kelas. “Kalian terserah mau ngapain aja, yang penting bersantai,” begitu perintah guruku.

Begitulah kami selama beberapa jam kemudian. Ada temanku yang berbincang, ada temanku yang membaca buku. Pada saat itu, aku yang tidak sabar untuk segera menyusun “jaring-jaring laba-laba” tidak bisa benar-benar bersantai. Aku berusaha berbincang dengan temanku dan membaca, tetapi mataku kerap curi-curi pandang ke arah teman-temanku yang telah terlebih dahulu dipanggil untuk menyusun “jaring-jaring laba-laba”. Ketika teman-temanku menyebar ke segala penjuru ruang kelas untuk benar-benar bersantai, aku terdiam menunggu dengan duduk tenang dan rapi di karpet dekat guru dengan kedok pura-pura membaca. Rupanya gelagatku itu diketahui oleh guruku. Alhasil, aku harus menyaksikan semua temanku—kecuali satu orang yang kini aku lupa siapa—dipanggil dahulu sebelum aku. Ya, aku menjadi orang yang dipanggil kedua dari terakhir. Saat itu jujur rasanya sedih. Apa salahku? Bukankah aku jelas-jelas menunjukkan minat pada kegiatan menyusun “jaring-jaring laba-laba” itu? Kenapa justru teman-temanku yang senang bermain-main itu yang dipanggil terlebih dahulu?

Seolah melempar memori akan kejadian itu ke mukaku sekarang, I Am Sarahza mengingatkanku bahwa kesalahanku pada saat itu adalah satu: enggan mengikuti petunjuk. Boleh jadi aku yang paling berminat, tetapi karena aku tidak mengikuti the playbook—aturan mainnya—, maka aku masih kalah.

Pada kasus yang dialami Hanum dan Rangga, Hanum merasa bahwa ia melupakan playbook-nya, yakni kitab suci Alquran. Ia merasa bahwa selama ia menginginkan keturunan, ia tidak pernah benar-benar meresapi setiap prosesnya sesuai Alquran dan sunnah. Ia lupa bahwa ada peraturan main yang harus ditaati supaya Yang Maha Kuasa berkenan memberikan kuasa-Nya.

The Main Objective

Karena I Am Sarahza berotasi mengelilingi perjuangan Hanum mengusahakan keberadaan janin dalam rahimnya, novel ini juga berfokus pada tugas utama seorang perempuan. Pada awal novel, diceritakan bahwa Hanum adalah seorang mahasiswi koass kedokteran gigi yang merasa tidak bahagia dengan takdirnya menjadi dokter gigi. Hal ini karena ia ternyata memiliki minat yang lebih besar pada dunia media dan jurnalistik. Ketika pada akhirnya ia bisa menyelami dunia media dan jurnalistik, ia menjadi lebih memihak pada kariernya daripada keluarga kecilnya bersama Rangga. Bahasa kerennya, Hanum menjadi career-oriented.

Hal ini kemudian menimbulkan banyak rintangan bagi Hanum dan Rangga dalam memperoleh keturunan. Ketika akhirnya Hanum merasa berada di titik nadir hidupnya, Hanum mengevaluasi orientasi hidupnya dan melakukan pivot, perputaran sebesar 180 derajat. Ia kemudian menjadikan rida Allah SWT sebagai orientasinya. Padahal, dalam ajaran agama Islam, rida Allah SWT bagi perempuan yang sudah menikah adalah rida suami, bukan pada karier, ketenaran, dan segala hal duniawi lainnya. Hanum menjadi afterlife-oriented, berorientasi surga.

Kisah perubahan orientasi Hanum mengingatkanku akan game masa kecil yang suka kumainkan. Dalam beragam game tersebut, ada yang istilahnya main objective (tujuan utama) dan small errands (pekerjaan sampingan). Main objective jelas lebih susah untuk dilakukan karena ada banyak langkah rumit yang harus dikerjakan untuk menyelesaikannya. Sementara itu, small errands adalah pekerjaan ringan yang tidak memakan waktu dan pikiran, tetapi memberi reward yang lumayan. Terkadang mengerjakan banyak small errands bisa lebih menyenangkan daripada melanjutkan misi utama untuk menyelesaikan main objective. Akan tetapi, sebanyak apapun small errands yang kukerjakan, game tidak akan selesai.

Begitu pula dengan hidup. I Am Sarahza mengingatkanku kembali bahwa dalam hidup ini pasti ada hal-hal kecil menyenangkan yang bisa mengalihkan fokus kita dari mencapai tujuan utama. Sebut saja karier, kemewahan, dan kesenangan duniawi yang menggiurkan. Sementara itu, kita terkadang sering melupa bahwa ada main objective yang harus kita tuntaskan sebaik-baiknya. Apakah main objective kita sebagai manusia? Sekali lagi, jawaban dari pertanyaan ini relatif. Akan tetapi, aku cukup yakin bahwa banyak yang setuju bahwa salah satu tujuan kita di dunia ini adalah untuk menjadi orang yang pantas mendapat surga-Nya.


Ada banyak bulir hikmah lain yang bisa dipetik dari I Am Sarahza, tetapi setidaknya tiga di atas merupakan tiga bulir hikmah yang paling mengena bagiku. Ketika membaca novel ini, aku tidak menangis, sepertinya. Mata berkaca-kaca, iya, tetapi dengan sekali kejap air mata itu hilang seperti diserap lagi oleh kantung pembuatnya. Meskipun ada beberapa ulasan I Am Sarahza yang menyebutkan bahwa novel ini membuat mereka menangis meraung-raung ketika membacanya, aku tidak menangis. Entahlah.

Akan tetapi, I Am Sarahza berkali-kali membuatku harus berhenti membaca dan meresapi apa yang barusan dipindai oleh kedua bola mataku. Beberapa kali aku menjadi teringat akan kejadian masa lalu karena mendadak jawaban kejadian masa lalu itu kutemukan verifikasinya pada novel itu. Beberapa kali pula aku harus berhenti untuk beristigfar karena I Am Sarahza rupanya juga menjadi buku yang mencatat dosa-dosaku. Beberapa kali pula aku harus berhenti untuk menanamkan bulir hikmah yang kutemukan kuat-kuat dalam diriku supaya aku kelak tidak lupa.

I Am Sarahza merupakan buku mengenai perjuangan. Sungguh tidak berlebihan apabila aku mengatakan bahwa I Am Sarahza menjadi kado indah dari Hanum dan Rangga bagi pembaca. Kado yang dapat mencegah pembaca terperosok dalam lubang yang sama, kado yang dapat menjadi lengan bagi yang perlu dikuatkan. Sekalipun tidak ada satu pejuang pun yang langsung menang di medan perang sehingga kita perlu bantuan banyak tangan untuk berjuang. Jadi, selamat membaca dan merasakan sensasinya!

Sarahza

Advertisements

2 thoughts on “I Am Sarahza: A Proof That The Butterfly Effect Exists

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s