Pahlawan Tidak Perlu Diselamatkan

14

“Zal, kalau sedang sepi begini, biasanya para maling sapi berkeliaran. Sapi-sapi itu biasanya akan dibawa ke stasiun yang kosong itu lalu diselundupkan dengan kereta yang berangkat paling pagi,” ujar Pak Mamat yang sedari tadi diam.

 “Lho, bapak kok tahu?” tanya sahabatku, Karim, kebingungan. Ketika ia berbicara sambil mengunyah kacang rebus yang direbus Bu Mamat untuk giliran ronda malam ini, ludahnya beterbangan ke mana-mana. Karim memang tidak pernah berubah sejak aku pertama mengenalnya: jorok.

“Lha, bapak itu sudah meronda di  tempat ini sejak bapak SMA. Bapak pasti tahu, lah!” Pak Mamat menjawab Karim dengan suara yang cukup keras. Mungkin Pak Mamat merasa tersinggung atau Pak Mamat lupa kalau sekarang sudah malam.

“Pak, kalau begitu, warga sekitar sudah pernah ada yang menangkap malingnya belum?” tanyaku.

Pak Mamat mengusap-usap wajahnya lalu berkata, “Belum, Zal. Kata orang, malingnya bertubuh besar kayak kingkong, jadinya susah ditangkap.”

“Wah, bapak mengada-ada saja. Mana ada orang yang bertubuh besar seperti kingkong? Memangnya bapak pernah melihat kingkong?” seloroh Karim.

Pak Mamat tampak panas mendengar celotehan Karim. “Jadi anak kok kurang ajar, to, kamu, Rim?”

Kami yang sedang berjaga di pos ronda malam itu terkikik geli melihat ulah Pak Mamat yang mendadak menjadi seperti anak kecil ketika hendak melempar sandal ke arah Karim.

“Pak, sudahlah, abaikan saja Karim itu,” kata Pak Hanif. “Lebih baik kita mengkhawatirkan awan yang malam ini sepertinya begitu tebal.”

Tanpa perlu aba-aba, kami mendongak. Benar kata Pak Hanif. Langit tampak abu-abu pertanda awan menyelimuti langit.

“Wah, lumayan, lah, kalau hujan. Besok pagi aku nggak perlu menyirami tamannya Nona Alisia,” gumamku.

Mendengar aku menyebut nama Nona Alisia, semua menoleh ke arahku.

“Kabar Nona Alisia, gimana, Zal?” tanya Karim.

“Masih hidup,” kataku. Mendadak aku merasa salah telah membawa nama gadis kembang desa itu di obrolan ronda malam ini.

Mendengar jawabanku, Pak Tiur, duda dua anak sejak lima tahun lalu, memukul lenganku. “Heh, jawaban macam apa itu? Mau kau kubunuh di rawa-rawa?”

Karim lantas menimpali, “Wah, Pak, jangan bunuh Faizal di rawa-rawa, dong, Pak. Sekalian saja bakar dia dengan bensin.”

Pak Hanif menggeleng-gelengkan kepalanya, “Hus! Kalian ini, ya, kalau membicarakan gadis aja seperti nggak ada kenyangnya. Bicarakan dengan sopan, dong.”

Karim dan Pak Tiur terkekeh mendengarnya.

“Yah, kabar seperti apa yang kalian harapkan? Nona Alisia baik-baik saja, kok. Kemarin ia memintaku ke kota membelikannya buah lemon.”

“Wah, enak, ya, kamu, Zal, bisa bekerja untuk Nona Alisia,” ujar Karim.

Tiba-tiba, Pak Mamat unjuk bicara lagi setelah diam beberapa saat. “Eh? Nona Alisia meminta buah lemon?”

Aku mengangguk.

Pak Mamat yang tadinya tampak tidak tertarik dengan obrolan ini mendadak membenarkan posisi duduknya dan menghadap lingkaran kecil kami dengan serius. “Biasanya kalau ada perempuan ingin sesuatu yang asam, dia pasti hamil!”

“Sembarangan, ah, Pak Mamat,” selaku cepat-cepat. Aku tidak mau gadis yang secara tidak langsung menghidupiku terkena kabar miring gara-gara aku.

“Lho, kok kamu tidak terima, Zal? Kamu cemburu?” balas Pak Tiur.

“Bukan begitu, Pak.”

“Faizal… Faizal… mau sampai kapan kamu menunggu Nona Alisia? Sampai mati?” tanya Pak Mamat.

Mereka berempat sontak menertawaiku. Aku yakin pipiku memerah mendengarnya, tetapi tidak ada yang bisa kuperbuat di hadapan empat orang saksi hidupku sejak kecil.

“Kalau sudah cinta mati, lantas harus bagaimana, deh, Pak?” kataku memberanikan diri.

“Cinta itu jangan sampai mati, nanti kecewa seperti saya yang ditinggal istri sendiri,” kata Pak Tiur masih tertawa. Aku tahu tawanya itu mengandung kepahitan. Kepahitan memang perlu ditertawakan demi kebahagiaan hati sendiri.

Pak Hanif memegang pundakku, “Zal, kamu ingat, kan, kalau kamu memiliki tato di tubuhmu? Apa kamu lupa kalau kamu dulunya preman pasar? Menurutmu apakah orang sesuci Nona Alisia mau bersamamu?”

Telingaku sedikit panas mendengarnya. “Bukankah saya sudah berubah, Pak? Setiap orang suci pasti memiliki masa lalu dan setiap pendosa pasti memiliki masa depan! Toh saya juga tidak pernah lagi bertingkah yang aneh-aneh. Saya pun menuruti semua permintaan Nona Alisia sebaik mungkin.”

“Nak Faizal, menyirami mawar di taman Nona Alisia setiap hari bukan jaminan hatinya akan terbuka untukmu,” kata Pak Hanif. “Jangan terlalu berharap yang berlebih. Menjadi orang yang melayaninya sekaligus teman dekatnya saja kamu seharusnya sudah bersyukur.”

Karim menghela napas panjang mendengar pembicaraanku dan Pak Hanif. Karim tahu benar betapa aku menghormati Nona Alisia lebih dari sekadar hubungan majikan dan pembantu. Karim tahu benar bahwa aku sudah lelah dengan menjadi bujang di antara gadis-gadis gatal desa ini. Karim tahu benar bahwa aku menginginkan orang seperti Nona Alisia untuk menjadi pendamping hidupku.

“Pak, sudahlah, jangan buat Faizal ingin menaruh kepalanya di bawah guillotine,” ujar Karim.

“Apa itu guillotine?” tanya Pak Tiur.

Karim mendengus, “Alat untuk bunuh diri, Pak.”

Mendengar jawaban Karim, Pak Tiur meringis, “Wah, ya maaf, Rim, kalau untuk bunuh diri, sih, saya tahunya kalau tidak tali, ya, pistol.”

Dari kejauhan, aku merasa mataku menangkap suatu bayangan yang bergerak. “Pak, ada yang bergerak kemari!”

Mereka berempat mendadak siaga dan menatap was-was ke arah pandanganku. Kami meraih benda tajam yang berada di sekitar kami, siap-siap berlari kalau-kalau maling sapi yang tadi disebut-sebut Pak Mamat beraksi.

Ketika bayangan itu mendekat, mereka berempat tidak bisa apa-apa kecuali menghela napas lega. Aku, yang duduk di pojokan, masih tercekat.

Nona Alisia.

Apakah aku bermimpi? “Nona, apa yang sedang Nona lakukan di sini?” tanyaku.

Nona Alisia berdiri di pinggir pos ronda kami dengan sedikit mengigil. Ia hanya mengenakan jilbab merah yang disampirkan di pundaknya, kardigan hitam yang selalu dipakainya setiap kali aku melihatnya, dan rok hitam yang menutupi mata kakinya. Apakah ia tidak pernah berpikir bahwa berada di tempat terbuka seperti ini pada malam hari bisa membuatnya kedinginan? Ia, kan, gadis rumahan, mana tahan dengan dinginnya malam.

“Boleh saya duduk?” tanyanya.

“Eh, silahkan,” kata Karim.

Karim dan bapak-bapak yang lainnya membuka lingkaran kami dan mempersilahkan Alisia duduk di antara kami. Dari lima tempat yang bisa didudukinya, Nona Alisia memilih duduk di antara aku dan Pak Hanif.

“Nona, sedang apa Nona di sini?” tanyaku mengulang pertanyaan.

Nona Alisia menoleh ke arahku. Aku bisa melihat kantung mata menggantung di bawah matanya. “Sudahlah, Zal. Kali ini jangan panggil aku dengan embel-embel ‘nona’. Aku sebenarnya tidak suka julukan yang orangtuaku berikan padaku di depanmu.”

Eh?

“Mmm… baiklah, Alisia,” kataku sedikit ragu. “Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Aku tidak bisa tidur. Aku harus mempersiapkan untuk ujian semester akhirku besok. Kalau tuntas, aku bisa lanjut mengerjakan skripsi lalu lulus,” katanya.

“Lalu kenapa tidak mencoba tidur? Tidak lama lagi gelap akan hilang dan pagi akan datang. Sebelum ujian, kan, butuh tidur,” kata Karim.

Alisia mengernyit heran, “Mengapa kamu tidak bercermin?”

Karim tampak bingung, “Lho, apa yang salah?”

“Maksud Alisia, kenapa kamu nggak ngaca, Rim,” kataku.

Alisia mengangguk-angguk. Setelah mencerna perkataan Alisia selama sekian detik, Karim menepuk jidatnya. “Duh, kamu cantik, tapi konyol, ya.”

“Lho, kenapa?”

“Kan aku lagi ronda, gimana, sih?”

“Oh, iya,” Alisia pun tertawa menyadari kekonyolannya.

Setinggi apapun kasta keluarga Alisia di desa kami, Alisia tetaplah Alisia, gadis biasa yang usianya sepantaran dengan pemuda-pemuda desa. Akan tetapi, satu hal yang ia miliki, tetapi kami tidak: masa depan yang lebih baik. Tidak seperti kebanyakan gadis di desa kami, Alisia berkesempatan mempelajari teknik biomedis di suatu kampus ternama di pusat kabupaten.

Sebenarnya, aku bisa saja ikut bersekolah di kampus yang sama dengan Alisia, mempelajari teknik penerbangan, lalu memiliki masa depan yang lebih baik pula. Dengan masa depan yang lebih baik, aku bisa saja memiliki Alisia, teman sebelah rumah sejak SMA. Akan tetapi setiap kali kusinggung dunia perkuliahan, aku hanya mendapati marah kedua orang tuaku. “Buat apa kuliah kalau kuliah hanya menunda waktumu mendapatkan penghasilan sendiri?” begitu kata mereka. Jadilah aku bekerja serabutan, mengerjakan apapun yang bisa kukerjakan, termasuk menjadi tukang kebun keluarga Alisia. Aku mencoba menerimanya dengan ikhlas sekaligus mencari sisi positifnya: selain menabung masa depan, aku bisa membuka hati Alisia perlahan-lahan.

“Tadi ketika saya berjalan kemari, kabutnya tebal. Saya bahkan hampir menabrak pohon,” ujar Alisia. “Memangnya hal seperti itu sering terjadi di jam-jam ronda, ya?”

Pak Hanif yang sedari tadi rupanya was-was dengan cuaca langsung menyahut, “Enggak, kok, Non. Entah mengapa malam ini cuacanya agak aneh. Coba perhatikan, awannya tebal sekali, kan?”

Seperti kami beberapa menit yang lalu, Alisia mendongak lalu mengangguk, membenarkan perkataan Pak Hanif. “Kira-kira nanti bakal hujan, nggak, ya, Pak? Masalahnya saya nggak bawa payung ke sini,” tanyanya.

“Yah, nanti kan bisa saya anterin, Non, kalau hujan,” sahut Pak Tiur sambil terkekeh.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Alisia tertawa kecil. Tawanya yang renyah memang terdengar ramah, tetapi aku tahu jelas bahwa matanya menandakan ketidaksukaan terhadap Pak Tiur. “Dengan bapak atau tidak dengan bapak kan sama saja saya kehujanan,” jawabnya sopan.

“Ada tirai di pos ini, Non. Kan saya bisa payungi Non Alisia dengan tirai itu,” jawab Pak Tiur, kali ini lebih genit lagi.

“Hus, Pak! Ada penjaganya, nih, lho,” sahut Karim sambil menunjukku. Karim memang kampret, kalau begini kan Alisia bisa tahu kalau aku menyimpan rasa padanya! “Nanti bapak bisa dilaporin Faizal ke orang tua Nona Alisia terus dibakar hidup-hidup sampai jadi abu!”

Mendadak aku paham. Karim menjulukiku sebagai penjaga Alisia karena aku bekerja untuknya. Aku tak masalah dengan itu. Aku pun bersyukur karena setelah itu Pak Tiur tidak lagi bergenit-genit dengan Alisia.

“Mau kacang, Non?” Pak Mamat menyodorkan sekantung kacang rebus yang sedari tadi kami tekuni.

Belum Alisia sempat menjawab, langit bergemuruh. Dari kejauhan, terlihat petir menyambar. Televisi yang dari tadi menyala tanpa suara di pos ronda mulai mengabu kehilangan sinyal. Tak lama kemudian, gerimis pun turun.

“Wah, tidak usah, Pak, terima kasih,” jawabnya. “Sudah mau hujan, saya pulang saja. Lumayan sudah tidak begitu penat seperti tadi. Terima kasih, Pak.”

“Ya sudah, kalau begitu bawa saja kacang ini pulang. Ini bingkisan dari kami untuk yang sedang mau ujian. Siapa tahu bisa jadi teman belajar,” kata Pak Mamat. Kantung kacang rebus yang mahalezat itu diikat oleh Pak Mamat dan diserahkan ke Alisia.

“Eh, terima kasih, Pak. Maaf malah mengambil konsumsi di sini,” ujar Alisa sambil tersenyum. Cantik.

“Nggak apa-apa, Non. Buat Non Alisia apa sih yang enggak,” sahut Pak Tiur. Dari samping, Karim menyikut Pak Tiur. “Duh!”

Alisia lantas merapatkan kardigannya dan bersiap-siap pulang. Dari kejauhan, Karim berdeham pelan, tetapi cukup keras untuk mengusikku.

“Mmm… Al, mau kutemani pulang?” tanyaku memberanikan diri.

“Nah, itu, lebih baik pulang ditemani Faizal saja, deh, daripada ditemani Pak Tiur,” seloroh Pak Hanif. “Tapi kalian jangan aneh-aneh, lho!”

Karim terkikik sementara Pak Tiur mendengus.

“Ya sudah, temani aku, ya, Zal!” seru Alisia.

Maka nikmat Tuhan manakah yang kaudustakan, Faizal? Aku bergegas memakai sandalku dan merapikan sarung yang kusampirkan di bahu. Setelah berpamitan dengan Pak Mamat, Pak Hanif, dan Pak Tiur, Karim berbisik padaku, “Rebut hatinya! Jangan jadi pangeran katak melulu!” Mendengarnya mau tidak mau aku menjitak kepalanya. Bagaimana kalau Alisia dengar?

Alisia dan aku lantas berjalan berdampingan menyusuri jalan menurun menuju rumahnya. Pos ronda ini tepat di puncak bukit di desa kami dan rumah Alisia hanya beberapa puluh meter di bawahnya. Meskipun begitu, jalannya cukup sepi dan berkelok. Kami berjalan di bawah pepohonan yang ada dengan langkah cepat supaya terhindar dari gerimis.

“Nona, memangnya besok berencana membuat skripsi tentang apa, sih?” tanyaku mencoba memecah keheningan.

Alisia menatapku dan mendengus, “Sudah, jangan panggil aku dengan ‘nona’. Kan aku sudah bilang.”

Kalau begitu berarti dia serius dengan yang dikatakannya tadi. Kukira itu hanya supaya kami tidak terkesan seperti majikan dan pesuruh di depan tetangga yang lain. Ternyata dia memang bersungguh-sungguh.

“Oke,” kataku. “Skripsinya mau tetang apa?”

“Aku berniat menulis mengenai hal-hal yang sekiranya bisa meningkatkan efisiensi alat cuci darah,” jawabnya. “Kau tahu, kan, itu alat untuk membersihkan orang yang memiliki gagal ginjal.”

Aku manggut-manggut. “Mmm… kalau seseorang mengalami gagal ginjal, kenapa tidak dioperasi saja? Bukannya cuci darah itu mahal, ya, apabila dilakukan berkali-kali?”

Mendengar pertanyaanku, mata Alisia melebar. “Nah, itu dia yang kumaksud! Eh, maksudnya, mmm… kan ginjal pengganti itu juga tidak mudah didapat. Nah, cuci darah menjadi salah satu alternatif pengobatan gagal ginjal. Karena sampai kini cuci darah itu harus dilakukan berkali-kali, aku mencoba mencari cara supaya alat cuci darah itu menjadi lebih efisien. Apabila bisa lebih efisien, kan, siapa tahu bisa mengurangi intensitas seseorang cuci darah. Akibatnya, biaya yang seseorang keluarkan untuk cuci darah bisa lebih rendah!”

Akan seberapa cerdas anakku apabila Alisia menjadi ibunya?

“Eh!” Tiba-tiba Alisia memekik. Alisia limbung sesaat dan hampir terjatuh ke depan apabila aku tidak meraih tangan kirinya.

“Tersandung akar, Al?”

Alisia meringis. Wajahnya yang pucat tampak ceria di bawah sinar bulan. “Aku nggak apa-apa, kok. Makasih, Zal!”

Aku lantas melepaskan genggamanku. Tanganku sedikit bergetar, tetapi aku berusaha menutupinya. Ketika kulihat air menetes di wajah Alisia, aku menyadari kalau kami seharusnya bergegas dan bukannya berbincang di bawah sinar bulan seperti adegan-adegan di roman picisan.

“Ayo, nanti kehujanan!” seruku.

Aku mulai berlari kecil supaya cepat sampai di rumahnya. Di sampingku, Alisia berlari mengikuti. Tak lama kemudian, kami sampai di rumahnya.

Seperti yang semua orang akan mengira, rumah Alisia adalah rumah yang paling mewah di desa ini. Pagarnya berwarna abu-abu pastel dengan lampu jingga di ujung-ujungnya. Halaman depannya cukup luas untuk menampung koleksi tumbuhan ibu Alisia—yang kurawat. Teras rumahnya juga cukup besar dan berlantaikan marmer. Semua ini begitu indah sekaligus menyedihkan; ini mempertegas mengapa aku dan Alisia tidak bisa bersatu.

Aku buka gerbang rumah Alisia yang tertutup dan mempersilakannya masuk terlebih dahulu. Aku antarkan dia sampai ke teras rumahnya. Setelah sampai di bawah lampu yang cukup terang, kuamati Alisia. Syukurlah dia tidak begitu basah.

“Terima kasih, ya, Zal, sudah mau repot-repot mengantarku pulang,” katanya. “Apa setelah ini kamu kembali ke pos ronda?”

Aku menggeleng, “Tidak. Aku sudah lelah, aku mau pulang saja. Lagipula aku sudah sering ronda, biar sekali ini aku pulang lebih awal.”

Alisia manggut-manggut. Kemudian ada jeda yang cukup panjang di antara kami.

“Eh, sebenernya tadi aku ke pos ronda juga mau ketemu kamu,” katanya.

“Oh iya? Ada apa?” kuharap aku tidak tampak malu. Kuharap aku bertingkah normal.

Alisia menunduk sambil mengayun-ayunkan tubuhnya. “Tadinya kukira bakal cuma ada kamu atau kamu dan Karim, tetapi ternyata ada bapak-bapak yang lainnya. Jadinya aku tidak jadi cerita tadi,” ujarnya.

“Mau cerita tentang apa, sih, kok beraninya sama yang muda-muda saja?” tanyaku. Kurasakan jantungku berdebar lebih cepat. Semoga Alisia tidak mendengarnya di keheningan malam ini.

“Mau cerita tentang Bayu,” katanya. “Kamu tahu, kan, laki-laki yang akhir-akhir ini sering datang ke rumah?”

Oh, tentu aku tahu. Bayu, lelaki necis dari kota, tidak kalah cemerlangnya dengan Alisia. Masa depannya cerah. Setiap bertemu denganku, dia selalu berbincang denganku. Dia sangat ramah. Hanya dengan beberapa kali berbincang, aku bisa tahu kalau Bayu itu anak pertama dari tiga bersaudara, mahasiswa teknik elektro, sedang magang di perusahaan multinasional, dan—yang paling penting dan paling mengganggu—menyukai Alisia.

“Iya. Ada apa, nih?” tanyaku mencoba menyembunyikan kekesalan.

“Mmm… nggak apa-apa, kapan-kapan aja,” ujarnya sambil mengulum senyum. Senyumnya semanis dan secantik yang sebelum-sebelumnya, tetapi karena itu muncul karena Bayu, pesona senyum itu hilang di mataku. Senyum itu justru mengirisku perlahan-lahan. “Toh kamu juga sudah lelah, kan?”

Aku mengangguk. “Ya sudah, aku pulang dulu, ya. Kamu jangan belajar sampai terlalu malam, kita manusia, bukan burung hantu.”

“Oke, makasih sekali lagi, ya, Zal! Kamu memang teman yang paling baik,” serunya. “Oh, iya, kalau ketemu Pak Mamat, tolong bilangin makasih sekali lagi untuk kacang rebusnya.”

“Siap!”

Begitu Alisia masuk ke dalam rumah, aku bergegas keluar dari halamannya sebagai orang bodoh. Tentu saja ia akan berbicara mengenai Bayu; tidak mungkin ia mau berbicara mengenai aku! Aku mulai berpikir bahwa semua orang memang ada jodohnya: yang hebat dengan yang hebat, yang biasa dengan yang biasa.

Meski aku berusaha menjadi pahlawan di depan Alisia—melakukan apa saja yang baik di depannya—, aku hanyalah aku, tukang kebun dengan kecerdasan rata-rata dan masa depan yang biasa. Apabila Alisia kelak bersamaku, maka masa depannya mungkin hanya membantuku yang bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan. Akan tetapi, apabila ia tidak bersamaku, Alisia bisa merubah dunia dengan apa yang ia miliki dan kecerdasannya. Alisia tidak perlu berkutat denganku yang masih melulu memutar otak bagaimana caranya mengisi perut dan bukannya memperbaiki dunia.

Aku tak apa-apa, pahlawan tidak perlu diselamatkan. Alisia memang terlalu baik buatku.

Aku memang teman yang paling baik.

***

 Tantangan dari Winda Alviranisa, Almas Fauzia Wibawa, dan Annisa Rakhma Sari untuk membuat cerita menggunakan kata-kata sebagai berikut: sepi, sapi, kereta, bingung, terbang, kingkong, panas, awan, taman, hidup, rawa, bensin, kenyang, lemon, desa, mati, mati, tato, lupa, telinga, mawar, napas, guillotine, pistol, mata, mimpi, ujian, gelap, cermin, kampus, marah, kabut, pohon, tirai, abu, malam, bingkisan, katak, televisi, tutup, akar, pahlawan, lelah, burung hantu, dan operasi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s