Resensi Buku – Malam-Malam Terang

Tasniem, siswi kelas 9 SMP Negeri 5 Yogyakarta, merasa seakan dunianya hancur ketika mengetahui nilai ujian nasionalnya. Pasalnya, nilai ujian nasionalnya tidak mencukupi syarat minimal SMA idamannya, SMA Negeri 3 Yogyakarta. Siswi yang kerap sekali menduduki peringkat atas merasa terpuruk, merasa malu tidak mampu mendapatkan yang terbaik sesuai usahanya. Ia merasa bahwa kehidupan tidak adil ketika masa depannya hanya bergantung pada angka desimal yang ia usahakan selama ujian nasional berlangsung.

Setelah berhari-hari mengurung diri di kamar, Tasniem mencoba mengobati kegalauan hatinya. Ia pergi mengunjungi neneknya di Solo. Dalam perjalanannya, ada satu kata yang sering Tasniem temui: Singapura! Pada awalnya, Tasniem merasa tidak yakin terhadap seluruh pertanda itu, hingga perkataan neneknya membuatnya tersadar bahwa Singapura adalah pemberhentian selanjutnya.

Berbekal kemampuan bahasa Inggris yang apa adanya dan semangat untuk ‘mengambil apa yang seharusnya miliknya’, Tasniem lantas bertolah menuju Singapura untuk menuntut ilmu. Ia bersekolah di GC (Global College), sekolah internasional dengan siswa dari seluruh penjuru dunia. Di sana, Tasniem berteman dengan ketiga roommates-nya: Angelina dari Indonesia, Cecilia dari Cina, dan Aarin dari India.

Kehidupan di GC tidaklah mudah. Tasniem merindukan keluarganya, kehidupannya di Indonesia. Tasniem yang perlu mengejar ketertinggalannya dalam berbahasa Inggris juga merasa terpukul ketika mendapat nilai yang jelek di pelajaran komputer. Tasniem ingin berhenti berusaha dan kembali ke pangkuan kedua orangtuanya di Indonesia.

Suatu malam, ayah Tasniem yang saat itu sangat sibuk menjadi pegawai tinggi negara menelpon Tasniem-suatu kejadian yang bisa dibilang langka. Mendengar lantunan ayat Al-Quran dan beberapa pepatah bijak ayahnya malam itu membuat rindu Tasniem terhadap rumah terbayarkan dan semangat Tasniem kembali berkobar.

Di tanah rantau, Tasniem berusaha mendapat pengalaman sebanyak mungkin. Semua kejadian yang menimpanya sebisa mungkin ia cari sisi positifinya. Ia jalani kehidupannya dengan doa dan usaha supaya suatu saat nanti ia dapat membuat kedua orangtuanya bangga.

Sepintas, kurasa “Every cloud has a silver lining adalah kalimat yang tepat untuk seluruh kejadian dalam novel karya Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi ini. Pada kali pertama aku membaca sinopsis novel ini, aku langsung tahu bahwa novel ini begitu cocok untuk membangkitkan semangat para pemimpi yang telah dijauhkan dari mimpinya.

Ketika aku membuka novel ini untuk yang pertamakalinya, aku merasakan aura yang familier. Novel ini berlatar di tempat-tempat yang terasa tidak asing bagiku berkat penggambaran-penggambarannya yang begitu ‘nyata’. Novel ini terasa begitu ‘dekat’ berkat pilot chapter-nya yang menggambarkan kejadian yang sering terjadi di sekitar pelajar: NEM yang terlalu rendah untuk masuk ke SMA idaman. Plot awalnya memang merupakan suatu kejadian yang biasa, tetapi every student can relate to that point of story.

Setelah membalik beberapa puluh halaman, aku berasa membaca kembali novel-novel favoritku: trilogi Negeri 5 Menara dan tetralogi Laskar Pelangi. Ya, menurutku, novel ini memiliki semangat yang sama dengan trilogi Negeri 5 Menara dan tetralogi Laskar Pelangi. Persamaannya adalah karakter Tasniem yang sebelas-duabelas dengan karakter Alif dan Ikal yang pantang menyerah. Novel ini seakan terletak di antara trilogi dan tetralogi besar itu; tidak sereligius Negeri 5 Menara (religius karena berlatar di pondok pesantren) dan tidak seutopis Laskar Pelangi (utopis karena menurutku semua tokoh mendapat akhir yang bahagia). Malam-Malam Terang berada di titik kesetimbangan.

Menurutku, Malam-Malam Terang adalah ‘camilan’ baru bagi para pecinta novel-novel petualangan penuh inspirasi. Aku suka cara Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi membuat usaha tokoh Tasniem untuk berprestasi tampak menonjol pada cerita itu. Cara belajar Tasniem yang jitu digambarkan dengan detail, mengakibatkan cerita itu terkesan seperti tips dan trik bagi para pelajar. Bagian cerita yang menggambarkan Tasniem ketika berdoa dan bermunajat kepada Tuhan membuatku sebagai pembaca tersadar bahwa setiap usaha itu perlu disertai dengan doa. Selain itu, aku suka cara Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi menggambarkan Tasniem yang selalu berpikiran positif. Pikiran positif Tasniem terletak dimana-mana dan tidak menggurui; pikiran positif Tasniem bisa ‘mendoktrin’ pembaca dengan mudah (tentunya dalam hal-hal yang baik).

Meskipun begitu, menurutku ada beberapa hal yang membuatku berpikir “Sedikit lagi dan novel ini akan menjadi petualangan yang sangat tak terlupakan.”

Pertama, kurangnya dialog pada beberapa bagian membuat urutan-urutan kejadian dalam cerita ini kurang dapat tervisualisasi dengan jelas. Meskipun latar ceritanya digambarkan dengan penggambaran yang begitu ‘nyata’, kurangnya dialog dalam cerita membuat beberapa bagian di cerita ini kurang nge-feel.

Kedua, masih ada beberapa salah ketik yang kurasa cukup mengganggu kenyamanan pembaca. Beberapa kata yang seharusnya ditulis dengan huruf kapital justru ditulis dengan huruf kecil. Sangat disayangkan!

Terakhir, aku masih merasa digantungkan ketika membaca bab terakhir dalam buku itu. Aku merasa bingung; sebenarnya apa, sih, inti dari novel tersebut? Apakah inti dari novel tersebut adalah perjuangan Tasniem melupakan sakit hatinya karena tidak diterima di SMA idamannya? Apakah inti dari novel tersebut adalah pengalaman Tasniem ketika bersekolah di SMA dan hendak kuliah? Apakah inti dari novel tersebut adalah upaya Tasniem untuk mendapat beasiswa kuliah di Jepang? Atau apakah inti dari novel tersebut adalah kisah Tasniem untuk pada akhirnya bersama dengan Edo?

Menurutku, novel ini berisikan kepingan-kepingan kisah Tasniem yang antarkepingannya tidak begitu berhubungan. Seperti misal, pada bab awal hingga beberapa bab sebelum bab terakhir, novel ini memang terfokus pada cerita Tasniem bersekolah di GC. Namun, beberapa bab terakhirnya membahas mengenai kegiatan Tasniem di Indonesia ketika mencari beasiswa ke Jepang. Kemudian, dua bab terakhirnya membahas mengenai Tasniem yang akan ‘ditunggu’ oleh Edo dan mengenai Tasniem yang sudah sampai di Bandara Fukuoka, Jepang. Aku merasa novelnya menjadi sedikit antiklimaks karena kurasa klimaks dari cerita tersebut adalah ketika Tasniem diwisuda (adegan itu benar-benar membuatku merinding!), bukan ketika Tasniem memperoleh beasiswa ke Jepang (bersekolah di Jepang tidak menjadi fokus cerita ini dari awal). Alangkah lebih nge-feel apabila novel itu hanya sampai pada adegan Tasniem diwisuda dan adegan-adegan selanjutnya dilanjutkan di novel selanjutnya (aku benar-benar berharap ada sekuelnya yang menceritakan petualangan Tasniem di Jepang hingga pulang dan ‘bersatu’ dengan Edo, hehe).

Akan tetapi, secara keseluruhan, menurutku novel ini merupakan novel a must-read! Ada banyak sekali adegan yang ‘mencerahkan’ dan adegan-adegan yang menyentuh hati. Aku tak sabar untuk membaca sekuelnya (kalau memang ada)!

Tambahan, berikut ini beberapa kutipan yang aku suka dari novel ini, hehe:

“Memenangkan proses itu sendiri lebih dahsyat daripada memenangkan skor pertandingan.”

“Kesepian adalah kutukan bagi seorang petualang.”

“Carilah suami yang pandai membaca Al-Quran. Kalau dia pandai membaca ayat-ayat Tuhan, membacamu sebagai istri adalah perkara yang mudah.”

Judul: Malam-Malam Terang
Penulis: Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tasniem Rais dan Ridho Rahmadi - Malam-Malam Terang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s