Surat Kepada Cucu

Typewriter

Dear cucuku.
Nenek menulis surat ini ketika nenek masih bersekolah dan masih muda, ketika nenek belum bertemu dengan kakekmu -yang saat ini hanya Tuhan yang tahu siapa namanya dan dimana keberadaannya-, dengan harapan nenek bisa menyampaikan sesuatu dengan seakurat mungkin.

Dear cucuku, kali ini nenek akan bercerita tentang sesuatu yang kalian harus tau. Nenek akan bercerita mengenai masa kini, masa ketika nenek masih muda. Kenapa nenek menceritakan ini? Karena nenek ingin kalian semua tahu apa yang terjadi pada masa-masa sebelum kalian dilahirkan. Pada masa-masa ketika kegilaan dimulai.

Surat ini nenek tulis pada tahun 2014. Tak perlu nenek sebutkan bulan dan tanggalnya dengan tepat karena cepatnya pergantian bulan dan hari itu tidak ada apa-apanya dengan cepatnya pergantian tahun. Setiap hari dunia semakin menggila dan nenek sangatlah takut apabila kegilaan ini tidak ada hentinya. Nenek takut apabila kegilaan ini mencapai masamu. Semoga saja tidak.

Cucuku, nenek terlahir pada tahun 1999. Akhir dari era 90-an, era yang terbaik menurut nenek. Nenek lahir sebagai anggota generasi Y yang sudah menyerempet generasi Z, generasi yang hidup langsung difasilitasi oleh teknologi yang teramat sangat mencukupi. Kalian tak tahu generasi Y ataupun Z? Cari di Google, Cu, semua ada di sana. Oh iya, Google adalah mesin pencari informasi yang luar biasa cepat (kerap disebut sebagai Mbah Google atau Nenek Google -Mbah adalah bahasa Jawa-nya nenek jika di masa kalian bahasa Jawa sudah tidak ada- karena Google mengetahui segalanya, seperti nenek yang sudah tua dan berpengalaman banyak) jika kalian  tidak tahu.

Ada untungnya sebagai seseorang yang terlahir pada masa itu. Tentu saja semua ada pros dan cons. Kelebihannya adalah saat nenek lahir, nenek sudah difasilitasi oleh teknologi yang cukup (tidak terlalu kurang maupun berlebihan) sehingga nenek dengan mudahnya mengikuti perkembangan teknologi. Kekurangannya, semua orang pada generasi nenek memiliki masa remaja yang sangat rawan akibat gilanya dunia. Biar nenek jelaskan.

Saat nenek masih balita, ponsel genggam paling awal baru mulai bermunculan setelah adanya pager (orangtua nenek lah yang sempat menggunakannya, nenek tak tahu). Fungsi dari ponsel genggam itu masih sebatas untuk berkirim pesan dan telepon. Terkadang ada kalender maupun kalkulatornya, tetapi ponsel genggam itu hanyalah berwarna dasar kuning kusam dan hitam. Sangat jelek jika dibandingkan ponsel genggam jaman sekarang (jaman remaja nenek yang sudah memiliki smartphone).  Internet pun belum dikenal masyarakat luas. Jangankan menonton video di YouTube, orangtua nenek saja masih harus ke warung internet untuk mendapat akses internet terbatas.

Saat nenek balita, nenek merasakan masa kecil yang menyenangkan. Nenek senang menonton kartun seperti Teletubbies, Winnie the Pooh, Spongebob Squarepants, dan sebagainya. Nenek mendengarkan lagu penyanyi Tasha Kamila dan Joshua Suherman ketika masih kecil. Nenekpun masih mendengarkan lagu seperti “Jangan Takut Gelap” sebagaimana anak kecil kerap takut gelap. Setelah nenek pikir-pikir, nenek memiliki masa kecil yang sangat beruntung dan menyenangkan.

Ketika nenek bersekolah di sekolah dasar, ponsel genggam pun hanya dimiliki oleh orang tua. Nenek sering pinjam milik nenek buyut kalian. Nenekmu yang masih kecil itu pun juga baru belajar menggunakan e-mail.

Nah, cucuku, waktu berjalan sangat cepat. Ketika nenek mau mulai bersekolah di sekolah menengah pertama, nenek mulai merasakan semua kegilaan dunia. Teknologi disalahgunakan. Manusia semakin bodoh. Menurutmu, bagaimana kondisi nenek yang mengalami masa remajanya -masa-masa penuh kegalauan- ketika dunia pun masih porakporanda? Mau tahu apa saja kegilaan dunia? Biar nenek jelaskan. Tetapi sebelumnya, kalian harus tahu bahwa nenek muak dengan itu semua.

Contoh pertama mengenai kegilaan dunia: penyalahgunaan teknologi. Kalian tahu, kan, bahwa sebenarnya teknologi itu untuk memudahkan pekerjaan manusia? Nah, internet adalah salah satunya. Asal kalian tahu, internet awalnya dibuat untuk menghubungkan komputer, tetapi kini fungsinya bermacam-macam. Hal positifnya adalah seperti menjaga silaturahim dari jejaring sosial, mendapatkan informasi dengan cepat, dan sebagainya. Hal negatifnya? Demi Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang! Karena manusia semakin bodoh, pornografi tersebar di internet. Itu sangat menjijikkan! Maksud nenek, bukankah hubungan suami-istri yang kerap di unggah itu sebenarnya sesuatu yang suci, sesuatu yang kitab suci pun melarang kita untuk memberitahukannya kepada siapa-siapa? Bukan orangtua kita yang melarangnya, tetapi TUHAN sendiri, dan kenapa manusia masih melanggarnya? Maaf nenek melantur, tetapi itu semua benar. Dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula kegilaan dunia.

Contoh kedua mengenai kegilaan dunia: salah asuhan. Begini, nenek adalah orang yang percaya bahwa kata ‘orangtua’ mengemban beban dan peran yang berat dan bukan hanya merupakan julukan bagi ‘siapa sajakah orang yang Tuhan gunakan untuk menciptakanku’. Orangtua bertugas untuk mengasuh keturunannya agar menjadi manusia yang baik. Nah, saat nenek menulis surat ini, banyak anak segenerasi nenek yang mendapat salah asuhan. Banyak anak yang beberapa tahun lebih muda dari nenek yang sudah berpacar-pacaran. Cucuku, saat ini sudah banyak anak sekolah dasar yang sudah berpacaran, mengucap kata ‘cinta’ kepada lawan jenisnya tanpa tahu apa makna sebenarnya. Kau tahu penyebabnya? Tayangan televisi yang tidak mendidik, yang hanya mengenai sepasang kekasih. Lebih lagi, banyak anak yang seumuran nenek yang sudah kecanduan narkoba dan terjerat pergaulan bebas. Demi Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?!

Contoh ketiga mengenai kegilaan dunia: kecanduan teknologi. Entah kenapa teknologi berperan penting dalam berkembangnya kegilaan ini, begitu menurut nenek. Zaman nenek buyut kalian muda, manusia berinteraksi dengan bertemu langsung. Mereka menyampaikan apa yang hendak mereka sampaikan melalui suara dan gestur tubuh. Mereka menyatakan cinta terkadang sambil malu-malu menyerahkan bunga. Nah, apa yang terjadi pada zaman nenek sekarang? Ping, ping, dan ping! Kebanyakan percakapan berlangsung melalui dunia digital. Bahkan ketika manusia saling berkumpul, mereka tetap menggunakan ponsel genggam dan mengabaikan yang lainnya. Sakit apa mereka? Manusia zaman sekarang ibarat zombie, hidup tapi tak hidup. Memuakkan.

Nah, cucuku, nenek takut apabila semua kegilaan ini masih ada pada masamu. Nenek takut apabila kegilaan ini akan berlangsung lama. Apabila dunia tetap gila, nenek takut kalian akan menjadi gila. Bahkan mungkin saat ini kegilaan mencoba menggerogoti nenekmu ini. Nenek tidak mau hidup dalam kegilaan dan nenek tidak mau dunia selamanya hidup dalam kegilaan. Karena itulah nenek bercerita. Nenek ingin kalian tahu betapa gilanya hal-hal yang mulai terjadi dan nenek ingin kalian menghindarinya, mencegahnya, dan menghentikannya. Memang bukan yang mudah, tetapi bukankah dunia yang tidak gila lebih nyaman untuk ditinggali?

Nah, sekian surat nenek. Nenek menyayangimu.

**
Sekedar fiksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s