Memeluk Seluruh Tubuhku

Aku bersila di kursi empuk ini. Menghadap laptop dan setumpuk makalah yang harus kubaca. Sudah sedari tadi Maghrib aku berdiam diri menggarap skripsi. Sekujur tubuhku diselimuti rasa pegal yang luar biasa. Aku menggerakkan persendianku dan tubuhku berderak-derak bak jungkat-jungkit yang karatan.

Berjalan ke pantry dapur, aku menuang secangkir teh chamomile dari poci. Dibandingkan dengan minuman apapun, teh adalah yang terbaik bagiku. Cairan cair manis yang menenangkan itu begitu bersahabat di saat-saat susah. Terlebih disaat kedamaian dibutuhkan.

Aku kembali berjalan menuju meja belajarku. Meja putih sepucat bunga calla lily itu menghadap jendela kaca yang cukup besar. Di balik jendela itu, terdapat pemandian cahaya jantung kota Jakarta. Ya, gedung-gedung, pinggir jalan, dan bahkan taman yang sudah tidak berfungsi pun masih menyajikan remang cahaya kuning yang berpendar. Meski begitu, kedamaian warna kuning terkalahkan oleh dahsyatnya pancaran lampu sorot dari acara-acara spektakuler yang diadakan malam hari. Kota Metropolitan ini benar-benar gila.

Terkadang aku ingin… ingin sekali berjalan-jalan malam hari di Jakarta. Menyelinap ke Kota Tua dimana bangunan Belanda yang bersejarah masih kokoh berdiri. Atau mungkin duduk-duduk di depan Taman Ismail Marzuki, mencoba merasakan aura seni yang menyusup ke dalam kalbuku. Oh, rasanya pasti seperti dilemparkan kembali ke masa lalu. Masa-masa dimana orang kota Metropolitan masih bertatap muka, berbicara. Tidak seperti sekarang ketika manusia hanya berani berbicara melalui dunia maya. Ping, ping, dan ping… kedip sana kedip sini… semua digital. Semua robot.

Sebenarnya, pindah sementara ke Jakarta bukanlah opsi terbaik yang kuinginkan. Aku, gadis yang hidup dari kota cinta Jogja, harus mengejar gelar sarjana di ibu kota. Meninggalkan keluarga, dan teman-teman tercinta. Bagaimana bisa seorang gadis yang hidup mampu hidup di antara robot-robot tak bernyawa? Di antara manusia yang bercakap dari teks belaka? Semuanya begitu kaku… dan abu-abu.

Kubuka pintu balkonku. Angin semilir meniup gorden putih gadingku hingga ia seperti menari-nari. Dingin ini begitu merasuk ke tulang-belulang meski esok siang panas matahari membakar ubun-ubun. Di pinggir balkon, kucengkram erat pegangannya. Perlahan-lahan, kurentangkan tanganku. Memeluk angin. Memeluk langit. Memeluk dunia.

Seketika angin meniup kencang tubuhku hingga terhempas ke belakang. Segera kututup kembali pintu balkon. Kusambar kardigan hitamku dan kukenakan di sekeliling tubuhku. Kehangatan menyebar ke seluruh tubuhku.

Malam-malam seperti ini yang membuatku menangis.

Aku selalu menyadari satu hal pasti yang tak dapat kuubah : tidak ada lagi canda tawa di dunia. Orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing : harta dan tahta. Anak kecil yang berlarian sambil menyunggingkan senyum terbaiknya telah hilang… pasangan yang duduk berdua, menatap mata masing-masing, dan memahami cinta dari tatapan mata kini tinggal kenangan. Bagaimana bisa dunia merubah manusia? Kesendirian dan dingin ini begitu mencekam.

Dari dulu aku selalu membayangkan. Tepatnya memimpikan. Bila malam-malam seperti ini -malam ketika kalbuku terusik- datang kembali, kardigan hitamku ini seperti tangan-tangan yang memeluk seluruh tubuhku. Selalu kubayangkan jari-jari kokoh manusia memelukku dari belakang. Kemudian ia menyingkirkan rambutku, dan berbisik padaku, ” Dunia baik-baik saja, Adelina. Kau baik-baik saja. Aku disini,”, kemudian dilanjutkan dengan janji-janjinya untuk tidak pernah pergi meninggalkanku. Senaif itukah diriku dahulu? Aku selalu lupa bahwa sifat baik manusia kini tinggallah kenangan.

Tetapi… tanpa manusia siapapun yang merengkuhku… menarikku dalam dekapan hangat… kenapa hangat ini masih terasa? Kenapa tenang ini masih terasa? Tiada wujud nyata yang mampu kulihat dan kusentuh… tetapi kenapa kehangatan ini terasa ada?

Oh bodohnya diriku! Sebagai mahasiswi filsafat yang pelajaran pertamanya adalah mempertanyakan awal eksistensi Tuhan… oh bodohnya diriku!

Kehangatan ini, apakah ini keagungan Tuhan? Jari-jari-Nya memelukku, melindungiku, memberiku rasa nyaman dan kehangatan.
Bukankah ini kepercayaan? Ia membuatku percaya, bahwa aku dunia akan baik-baik saja. Bahwa aku akan baik-baik saja.
Apakah ini keagungan Tuhan? Ketika tiada lagi manusia yang peduli, Ia tetap peduli?
Inikah keagungan Tuhan? Ketika tiada lagi manusia yang mencintai, Ia tetap mencintai?

Ia memeluk seluruh tubuhku. Ia mendekapku di bawah naungan kubah keagungannya.

Oh, ternyata bukan dia-

Dengan dua alasan yang berbeda, aku sempurna menangis.

2 thoughts on “Memeluk Seluruh Tubuhku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s