Kamu, Kayu, dan Kopi

Dear Adrian.

Kuingat kau pernah berkata padaku, ” Takkan kubiarkan waktu merubah segalanya. Aku memang manusia, tetapi aku juga memiliki kuasa, Sayang,”. Aku benar kan? Kuingat dengan pasti, kau pun juga mengelus lembut rambutku ketika kau memanggilku dengan ‘sayang’ waktu itu.

Karenanya, kali ini aku juga takkan membiarkan waktu merubahku. Kutuliskan padamu surat ini, benda yang begitu bertentangan dengan jaman digital kini. Adrian, kenapa kutulis surat? Karena aku tahu kau pasti akan menyukainya.

Aku ingin bercerita, boleh kan?

Kamu masih ingat tidak, sore itu? Suatu senja di pertengahan bulan Juli yang hangat. Hari itu hari yang sibuk bagi kita berdua selaku panitia talkshow di SMA. Kita berdua harus pulang sore. Aku tidak merasa terpaksa; aku senang. Aku senang karena aku bisa menghabiskan waktu lebih lama bersamamu.

Sekitar pukul 16.00, aku beranjak menuju tempat parkir. Dari jauh, sayup-sayup kudengar beberapa teman-temanmu menyuruhmu untuk mengikutiku. Asal kau tahu, ya, aku benar-benar malu. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Bahkan bibirku rasanya hampir sobek karena tersenyum. Terlebih ketika kau pada akhirnya menyusulku.

Kau tahu. Jantungku benar-benar berdetak sangat cepat saat aku mendengarmu memanggil namaku. Apalagi ketika aku mulai menghadapmu. Tubuhku benar-benar lemas.

” Aria, ada waktu enggak?”, tanyamu dengan wajah cemas yang masih saja cakep.

Aku menggigit bibirku, mencoba mengontrol suaraku agar tidak melengking seperti kodok terjepit, ” Mmm.. ada. Kenapa Adrian?”.

” Jalan-jalan sebentar, yuk, ke kafe depan,”, ajakmu.

Aku mengangguk pelan. Kuharap kau tidak mendengarnya, tetapi setelah itu aku menelan ludahku dalam-dalam. Sekaligus menelan kegugupanku.

Aku dan kamu berjalan menuju kafe depan sekolah. Dari jauh, terdengar teman-temanmu terkikik keras.

” Memangnya ada apa, Ad?”, tanyaku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, kau malah menggigit bibirmu dan kemudian tersenyum, ” Nggak apa-apa. Aku yang traktir, ya,”.

Sesampainya kita di kafe, kita mengantri. Aku memesan satu cup moccacinno hangat sementara kau memesan vanilla latte hangat dan 4 roti croissant coklat keju. Kemudian, kau memilih tempat duduk di pojok beranda dengan pemandangan kota yang indah. Kau menarikkanku sebuah kursi, memperlakukanku layaknya seorang gentlemen.

Memecah keheningan, aku berkata padamu, ” Adrian, ada apa?”.

Alih-alih langsung menjawab pertanyaanku, kau justru menatapku lembut. Aku tidak merasa terintimidasi oleh tatapanmu yang cukup lama, aku justru nyaman. Kurasa kau menjelajahi wajahku, kemudian berakhir pada kedua mataku. Aku pun menatamu, pemilik mata hitam tajam yang seolah-olah selalu tersenyum.

” Hey, apa sih? Aku malah jadi takut, lho,”, ujarku. Entah darimana aku bisa mendapat keberanian untuk mengucapkan hal seperti itu padamu.

Kemudian kau tertawa dan akhirnya aku berhasil membuatmu bicara, ” Sebelumnya, Aria, kamu tahu nggak, 3 hal yang kini benar-benar aku sukai?”.

Pertanyaan macam apa itu? ” Enggak lah, Ad. Memangnya aku peramal?”, selorohku.

Kau pun tersenyum. Senyumanmu miring dan.. ah, Adrian, aku begitu menyukainya! Rasanya seolah-olah senyummu adalah gravitasi mahadahsyat di semesta ini. ” Pertama, aku suka kayu. Kenapa? Dia kuat sekaligus lunak. Kuat berarti memiliki pendirian yang kuat. Mampu melindungi. Lunak, berarti ia lembut. Kata melankolisnya ya, kayu itu sebuah simbol lain dari romantis. Dua kepribadian jadi satu,”, ujarmu bangga.

” Terus yang ke dua?”, kejarku. Kau harus tau, diam-diam, di ruang jurnalistik aku benar-benar menikmati ketika kau berseloroh tentang pandanganmu yang unik mengenai benda-benda sepele di sekitar.

” Kopi,” katamu simpel.

” Kenapa kopi? Kopi kan hitam dan pahit,”, kataku.

” Hey, Aria! Coba sesap kopimu!” katamu.

Kita berdua menyesap kopi masing-masing. ” Bagaimana perasaanmu?”, tanyamu.

” Hangat,”, ujarku sambil mencomot satu croissant.

” Nah, kopi itu hangat. Ia juga menenangkan. Ia memang pahit, tetapi hidup itu ada pahitnya juga, kan? Itulah kenapa aku menyukai kopi. Sesuatu pahit yang pada akhirnya menenangkan. Hal baik akan datang setelah hal buruk,”.

Aku tersenyum. Aku menyukai itu. Kau selalu memiliki perspektif gila yang cerdas. Namun kemudian kulihat kau mendadak kembali tersenyum saja. Kamu yang meledak-ledak seperti tadi mendadak hilang.

” Lalu.. yang ke tiga?”, tanyaku.

Kau menelan ludahmu, itu terlihat sekali, sayang. Kemudian kau tersenyum misterius dan dramatis, ” Apa kau berjanji takkan kabur setelah mendengar ini?”.

Aku mengangguk. ” Betapa parahnya hal ketiga yang disukai Adrian sehingga aku bisa saja kabur?”, kataku meniru sikap dramatismu.

Kau memegang tanganku yang sedang terjulur di meja. Kemudian kau menatap mataku, ” Hal ketiga yang kusukai adalah.. kamu, Arianna Prastiti,”. Jantungku seketika terasa berhenti. Hiperbol, memang. Tetapi memang begitu adanya. Jeda sekian detik, kau melanjutkan, ” Apa kamu mau memberiku kehormatan untuk bisa bersama kamu, Aria?”.

Menatap mata hitam tajammu, menatap bibir tipismu yang senantiasa membentuk senyuman, menatap wajahmu yang begitu tulus akan segala hal.. apa lagi yang bisa kuminta? Kau itu sebuah kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan seorang manusia, sayang. Kau kira aku tidak tahu apa-apa tentangmu? Aku tahu, Adrian. Aku telah menilai dirimu sejak lama. Dan kau memang sempurna. Seseorang yang begitu cerdas, penyayang, hormat kepada tiap wanita, agamis, kuat berpendirian. Kau itu seorang teman yang baik; partner yang mau mengerti, memahami, membimbing, memimpin, dan berkompromi.. apa lagi yang perlu kuminta?

” Ya, aku mau Adrian. Berjanjilah bahwa kau akan membantu aku dan jangan kecewakan aku,” kataku.

Aku ingat, kemudian kita berpelukan. Kurasa dua jiwa telah saling kembali ke rumah. Kau berbisik pelan, ” Kamu, kayu, dan kopi. Aku menyukaimu lebih dari segalanya. Aku berjanji,”

98

Saat itu kita saling mendekap erat, melindungi dan menyemangati. Seketika aku mulai paham esensi dari sebuah hubungan perkasihan. Bersamamu, Adrian, kutemukan sebuah perlindungan dan dunia baru. Aku benar-benar bersyukur bertemu seseorang sepertimu, Adrian, tanpamu, mungkin aku akan menjadi orang yang berbeda.

Aku hanya ingin berkata, kuharap setelah kau membaca suratku ini, kau menjadi lebih tahu akan perasaanku terhadapmu. Bahwa kau begitu berarti.

Selamat anniversary ‘kita’ yang ke-8, Adrian.
Sampai berjumpa besok di.. kau tahu😉
Salam sayang,
Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s