Book Review – Once A Witch by Carolyn MacCullough

Overall : GREAT JOB, Carolyn MacCullough!

Mungkin kita sering merasa tidak dianggap oleh keluarga kita atau teman-teman kita karena tidak memiliki kemampuan yang sama, pada suatu kasus atau cerita. Rasanya sangat tidak enak, bukan? Sekiranya begitulah yang dirasakan oleh Tamsin.

Tamsin Greene atau Tamsin adalah gadis yang terlahir diantara orang-orang yang memiliki Talenta (semacam sihir) tersendiri. Ketika lahir pada malam Samhain, Tamsin diramalkan bahwa dia akan menjadi orang yang berperan penting pada dunia magis tersebut. Tamsin juga diramalkan akan menjadi gadis yang memiliki Talenta yang wow!

Tetapi apa daya, ketika Tamsin sudah memasuki masa remaja, tanda-tanda akan kemunculan Talenta-nya tidak pernah muncul. Selama itu hingga ia duduk pada bangku SMA, Tamsin selalu merasa tidak dianggap oleh lingkungannya karena Talenta-nya yang tidak muncul.

Hingga suatu saat, ada profesor muda yang tampan bernama Alistair datang ke toko buku milik keluarga Tamsin. Saat itu, Tamsin sedang jaga. Profesor tersebut salah mengetahui Tamsin sebagai Rowena -kakak Tamsin yang memiliki Talenta luar biasa hebat- dan meminta bantuan Tamsin untuk mencari suatu benda yang mampu menguak rahasia keluarganya.

Dalam petualangan mencari benda yang dicari Alistair, Tamsin dibantu oleh sahabat masa kecilnya, Gabriel. Perjalanan mencari benda ini mengakibatkan banyak kekacauan yang berdampak pada masalah waktu dan sejarah. Dan ketika benda tersebut ditemukan, rahasia-rahasia kelam keluarga Tamsin terkuak. Apa yang sebenarnya terjadi? Dapatkan semuanya kembali berjalan normal?

Once A Witch merupakan jalinan cantik dari cerita mengenai kehidupan (keluh kesah, pendapat seorang adik, dsb.), misteri, sihir, dan cinta. Carolyn MacCullough menjadikan satu dengan rapi dan proporsional. Kisah ini pada awalnya kebanyakan menggambarkan perasaan kecewa Tamsin akan nasibnya yang tidak memiliki Talenta. Kemudian mulai beranjak pada kisah cinta, yaah, seperti sindiran-sindiran juga mengekspresikan Oooh, cakep sekali!. Setelah itu petualangan yang seru dimulai. Petualangannya juga tidak monoton, sebab ada beberapa humor-humor ‘menggoda’ Gabriel, juga pernyataan perasaan Tamsin yang tergolong romantis.

Tetapi ada satu hal yang disayangkan : nama keluarganya terlalu banyak untuk dihafal. Sudah begitu, nama-namanya kurang mudah diingat. Seperti terlalu banyak saudara, terlalu banyak bibi dan paman, terlalu banyak nenek, dan sebagainya. Mau tidak mau, bagi yang susah menghafalkan nama-nama, hal ini merupakan kesulitan tersendiri. Siapa tau pada akhirnya nama orang yang susah diingat kisahnya justru yang berperan penting. Kita tidak tahu, kan?

Tetapi secara keseluruhan, aku sudah bilang diawal, GREAT JOB! Buku ini benar-benar memikat. Ending-nya yang menggantung semakin membuat penasaran! Coba baca sendiri, deh!😉

Buku selanjutnya : Always A Witch

Judul : Once A Witch
Pengarang : Carolyn MacCullough
Penerbit : Ufuk Publishing House

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s